Nusantaraterkini.co, BEIRUT - Tiga paramedis tewas dan seorang lainnya mengalami cedera serius pada Jumat (15/5/2026) akibat serangan Israel di Lebanon selatan.
Perdana Menteri (PM) Lebanon Nawaf Salam pun mendesak dukungan Arab dan internasional yang lebih kuat bagi upaya diplomatik Lebanon.
Baca Juga : Trump Sebut Netanyahu “Gila”, Telepon Panas Picu Ketegangan AS-Israel soal Konflik Lebanon
Salam memperingatkan bahwa negaranya menghadapi krisis terparah sejak didirikan.
Baca Juga : Israel Klaim Tewaskan Pemimpin Baru Sayap Militer Hamas dalam Operasi di Gaza
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan tersebut menghantam pusat pertahanan sipil yang dioperasikan oleh Otoritas Kesehatan Islam di Kota Harouf dan meluluhlantakkan fasilitas itu.
Kementerian tersebut menuding Israel melanggar hukum humaniter internasional melalui serangan yang menargetkan tenaga medis dan petugas penyelamat.
Baca Juga : Israel Kuasai Kastel Beaufort di Lebanon Selatan, Benteng Berusia 900 Tahun Jadi Sasaran Operasi Militer
Salam mengatakan pada Jumat bahwa perang terbaru ini dipaksakan kepada Lebanon dan mengakibatkan Israel menduduki 68 kota, desa dan posisi.
Baca Juga : Pasukan Perdamaian Prancis Tewas di Lebanon, Sekjen PBB: Kejahatan Perang!
Dia mengatakan Lebanon tidak dapat pulih selama anak-anak muda terus beremigrasi, kelas menengah terkikis, dan sektor-sektor penting seperti pendidikan serta layanan kesehatan berjuang untuk bertahan.
Pertempuran saat ini dimulai pada 2 Maret, ketika Hizbullah menembakkan roket ke arah Israel di tengah ketegangan yang dipicu oleh perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon.
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
