Nusantaraterkini.co, CARACAS-Dunia dikejutkan oleh aksi militer Amerika Serikat yang melakukan penangkapan langsung terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026). Langkah drastis di bawah pemerintahan Donald Trump ini dinilai banyak pihak sebagai puncak dari upaya sistematis Washington untuk menguasai Caracas. Namun, di balik narasi politik yang dibangun, pakar independen PBB, Alfred de Zayas, mengungkap motif yang jauh lebih pragmatis: perburuan cadangan minyak terbesar di dunia serta kekayaan mineral strategis lainnya.
Penangkapan ini didahului oleh serangkaian blokade laut terhadap kapal-kapal pengangkut energi Venezuela. Menurut de Zayas, agresivitas Amerika Serikat berakar pada keinginan untuk mendikte pasar komoditas global, terutama terkait minyak bumi, emas, hingga litium yang menjadi "darah" bagi industri teknologi masa depan.
Baca Juga : Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Dicap Bandar Narkoba dan Teroris oleh AS
“Jika industri minyak diprivatisasi, dan bukan hanya minyak, Venezuela sangat kaya akan emas, litium, dan semua sumber mineral yang kita butuhkan. Namun, alih-alih membelinya secara adil, kita ingin mendapatkannya dengan murah,” ujar de Zayas, seperti dilansor RMOL, Minggu (4/1/2026).
De Zayas melihat pola intervensi ini sebagai pengulangan sejarah panjang kebijakan luar negeri AS yang kerap mencampuri kedaulatan negara lain demi keuntungan ekonomi sepihak. Ia merujuk pada literatur sejarah yang mencatat rekam jejak penggulingan kekuasaan oleh Washington sejak abad ke-20. Dengan lugas, ia menyederhanakan motif intervensi tersebut ke dalam dua pilihan ekstrem.
“Jadi, pilihannya hanya dua: kita ingin mencurinya, atau kita ingin menggulingkan pemerintahnya,” tegasnya.
Meski Maduro kini berada dalam tahanan, de Zayas memperingatkan bahwa stabilitas di Amerika Latin justru berada di ambang kehancuran. Berdasarkan pengamatannya di lapangan, sentimen anti-intervensi di Venezuela sangatlah masif. Ia memprediksi bahwa pendudukan militer AS tidak akan berjalan mulus dan justru berisiko memicu perang gerilya yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Baca Juga : Presiden Maduro Tuntut AS Hentikan Kebijakan Intervensi di Venezuela dan Amerika Latin
“Tentara Amerika tidak akan disambut dengan bunga. Mereka akan dilawan. Orang Venezuela dan Kolombia sangat berpengalaman dalam perang gerilya,” pungkas de Zayas memperingatkan dampak destruktif dari operasi tersebut.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
