Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (27/12/2024) 16.00 WIB, emas diperdagangkan pada level US$2,626 per ons troi terkoreksi 0,27% dari level penutupan sebelumnya. Harga emas terpantau turun di tengah perdagangan sepi pasca liburan natal.
Mengutip Bloomberg Meski demikian, emas memiliki peluang untuk kembali menguat seiring dengan sentimen pasar yang mencermati prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Trump.
BACA: Harga Emas Spot Menguat 0,13% berada di Level US$ 2.620,38 Per Oons Troi Setelah Libur Natal
Baca Juga : BPS Catat Inflasi Bulanan Sumatera Selatan Mei 2026 Naik 0,61 Persen
Selain itu, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) untuk tahun 2025 diharapkan mendukung harga logam mulia.
Analis Dupoin Indonesia, Andy Nugraha melihat, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa tren bullish pada emas semakin kuat.
Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini 28 Mei 2026: Turun Rp31 Ribu ke Rp2.754.000 per Gram
Namun tetap perlu diantisipasi volatilitas pasar yang masih tinggi di tengah ketidakpastian global.
Emas sebagai aset tanpa imbal hasil mendapatkan dukungan dari kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed di tahun depan.
Hal itu seiring data inflasi PCE AS yang moderat memicu ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut.
Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global
Andy berujar, pemangkasan suku bunga memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe-haven ditengah meningkatnya risiko geopolitik, termasuk konflik yang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah.
Selain itu, emas diperkirakan akan menutup tahun 2024 dengan kenaikan sebesar 27%, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2010. Kenaikan ini didorong oleh pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan kebijakan moneter longgar dari bank-bank sentral utama dunia.
Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Daya Tarik Dolar AS Sebagai Lindung Nilai Melemah
Andy menjelaskan, ketegangan geopolitik turut berperan besar dalam meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe-haven. Dinas Keamanan Federal Rusia baru-baru ini mengungkapkan telah menggagalkan beberapa rencana serangan bom yang ditargetkan pada perwira tinggi Rusia di Moskow.
Di sisi lain, serangan udara Israel di Gaza menewaskan lima wartawan Palestina, yang diklaim oleh militer Israel sebagai anggota Jihad Islam. Insiden ini semakin memperkeruh situasi geopolitik global.
Adapun risiko negatif yang perlu diwaspadai adalah penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang saat ini berada di atas level 108,00.
Baca Juga : Dilantik Jadi Bos The Fed, Kevin Warsh Janji Tak Tunduk pada Trump
Dolar AS yang lebih kuat membuat emas, yang berdenominasi dolar, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Namun, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap lemah pada Jumat memberikan sedikit dukungan bagi emas. Imbal hasil obligasi AS bertenor 2 tahun berada di level 4,33%, sementara tenor 10 tahun tercatat di 4,58%.
‘’Secara keseluruhan, emas tetap menjadi instrumen investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global. Dengan performa yang solid sepanjang tahun ini, emas diperkirakan akan melanjutkan tren positifnya menuju akhir tahun,’’ kata Andy dalam siaran pers.
Baca Juga : Rupiah Tahan Tekanan Global, Ditutup Menguat ke Rp16.860 per Dolar AS
Menurut Andy, emas saat ini memiliki peluang naik hingga level US$2.650. Namun, jika terjadi reversal, penurunan dapat mencapai level US$2.609 sebagai target terdekatnya. Pola pergerakan ini mencerminkan volatilitas pasar yang masih tinggi ditengah ketidakpastian global.
