Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bahala di Tukka Belum Selesai, Sungai Berubah Arah dan Masuk ke Permukiman

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Junaidin Zai
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kondisi jalan yang berubah menjadi jalur sungai, di jalan utama di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka. Akibatnya seorang pengendara memilih untuk mendorong sepeda motornya, pada Minggu (21/12/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Tiga pekan setelah banjir dan longsor menerjang kawasan perbukitan Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, jejak bencana masih terlihat.

Hingga Minggu (21/12/2025), material kayu, lumpur, serta sisa bangunan rumah warga masih menumpuk di berbagai titik.

Di sejumlah lokasi, bahala atau bencana tersebut belum benar-benar usai. Bahkan, ketika hujan turun warga mengaku masih trauma.

Di kelurahan Hutanabolon, permukiman yang berdiri di bantaran sungai nyaris lenyap. Rumah-rumah yang berada paling dekat dengan aliran air diterjang lumpur, dan gelondongan kayu saat banjir melanda pada penghujung November lalu.

Sebagian bangunan hancur, sementara rumah yang masih tersisa mengalami kerusakan berat. Lumpur mengendap hingga setinggi satu meter di dalam rumah.

Baca Juga : Lumpur Setebal 1,5 Meter, SMA Santo Fransiskus Pandan Tapteng Bersih-bersih Mandiri Pakai Alat Berat

Sebagian warga hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Di tengah keterbatasan, tim pencarian dan pertolongan gabungan masih melanjutkan upaya pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang.

Akses menuju Hutanabolon dan desa-desa di sekitarnya juga belum sepenuhnya pulih. Jalan menuju kawasan itu masih dipenuhi endapan lumpur. Meski alat berat sudah mulai bekerja membersihkan beberapa titik terparah, genangan air masih menutup ruas jalan.

Air tersebut berasal dari Sungai Aek Pittu Bosi. Endapan lumpur yang tebal membuat permukaan sungai kini hampir sejajar dengan daratan. Aliran sungai yang semakin dangkal juga dipenuhi gelondongan kayu sisa banjir.

“Ini sudah berubah bentuk aliran sungainya. Apalagi kalau hujan turun saya trauma kejadian lagi,” kata Juli Anggraini (27) kepada Nusantaraterkini.co, Minggu.

Menurut Juli, perubahan alur sungai memaksa air mencari jalan baru dan masuk ke celah-celah permukiman. Air kemudian naik ke badan jalan dan membentuk aliran yang sebelumnya tidak pernah ada. Kondisi ini membuat akses ke desa semakin sulit, terutama saat hujan turun.

Baca Juga : Bobby Nasution Targetkan Bangun 1.006 Hunian Tetap untuk Korban Banjir dan Longsor Sumut

Untuk mencapai Hutanabolon, kendaraan dengan suspensi tinggi menjadi pilihan utama. Sejumlah pengendara sepeda motor terlihat kesulitan melintas. Beberapa sepeda motor bahkan mogok di tengah jalan setelah mesin kemasukan air.

Tak sedikit warga memilih memarkir kendaraan mereka di tempat aman dan melanjutkan perjalanan dengan menumpang mobil atau berjalan kaki untuk melintasi desa.

Banjir dan longsor di Tapanuli Tengah disebut sebagai salah satu bencana terparah di Sumatra Utara sepanjang 2025. Berdasarkan data per 18 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 132 orang. Sebanyak 38 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Bencana tersebut juga berdampak luas terhadap kehidupan warga. Sebanyak 296.453 orang tercatat terdampak, dengan 9.657 orang di antaranya masih mengungsi dan bergantung pada bantuan darurat.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)