Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bangun Gedung dan Rumah di IKN Bisa Pakai Kayu dan Bambu Rekayasa

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ruang kerja di kamar tidur utama atau master bedroom Rumah Tapak Jabatan Menteri (RTJM)(KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co - Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan berkoordinasi dengan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) dalam membangun gedung di IKN dengan menggunakan material kayu dan bambu rekayasa.

Hal ini sebagaiamana disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto dalam rilis, Kamis (26/4/2024). 

"Kami akan berkoordinasi dengan OIKN untuk mengunakan material kayu dan bambu rekayasa bangunan dan gedung di IKN dengan menggabungkan struktur baja beton," jelasnya.

Menurut Iwan, material tersebut bisa digunakan untuk bagian interior wall panel, parket lantai, ceiling, meubelair, serta peralatan makan dari kayu dan bambu.

Baca Juga : Anggota DPR Sebut Putusan MK Soal IKN Berupa Penegasan, Pembangunan Disesuaikan Kemampuan Anggaran

Iwan melanjutkan, potensi pemanfaatan material kayu dan bambu rekayasa untuk bangunan gedung dan hunian sangat besar dan memiliki peluang cukup baik.

Adanya ketersediaan material kayu dan bambu di Indonesia menjadi salah satu peluang yang harus dikembangkan sebagai hilirisasi produk dalam program penyediaan hunian layak, baik rumah tapak maupun vertikal.

"Peluang Indonesia untuk memanfaatkan material kayu dan bambu rekayasa untuk bangunan gedung dan hunian sangat terbuka lebar," ujar Iwan.

Menurut Iwan, Kementerian PUPR selama ini juga telah melakukan riset dan penelitian terkait pemanfaatan kayu dan bambu untuk berbagai proyek pembangunan infrastruktur yang ada.

Baca Juga : Putusan MK Jadi Rujukan Final Pemindahan Ibu Kota ke IKN

Ke depan, tidak tertutup kemungkinan dengan semakin berkembangnya teknologi dan standarisasi material tersebut bisa digunakan untuk hunian.

Iwan menjelaskan, sebagai bentuk dukungan dalam isu lingkungan, pemanfaatan material berbasis bio atau bio-based material seperti kayu dan bambu memiliki emisi karbon yang terendah dibanding dengan jenis material lain. 

Contohnya, material bangunan rumah dan gedung berbasis geo atau geo-based material seperti batu, pasir, bata, semen, dan logam yang secara signifikan berkontribusi pada emisi gas rumah kaca.

Baca Juga : Raih Kemenangan, Pelatih Malaysia Sebut Timnya Masih Banyak Kelemahan

Hal tersebut menjadikan kayu dan bambu sebagai alternatif material bahan bangunan yang berpotensi sebagai substitusi beton dan baja baik untuk struktural maupun non struktural bangunan rumah dan gedung.

(*/Nusantaraterkini.co)

Sumber: kompas.com

Baca Juga : 2 Tahun Buron, Polisi Ringkus Pembunuh Pria di OKU Selatan