Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Capaian Inflasi Rendah, Pemerintah Diingatkan Jangan Sembunyikan Pelemahan Daya Beli Rakyat

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Anggota Komisi XI DPR, Amin Ak. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR Amin Ak, mengingatkan capaian inflasi rendah yang saat ini terjadi di Indonesia perlu dibaca secara lebih jernih dan berimbang.

Pasalnnya, Amin berpendapat stabilitas harga memang penting, namun tidak boleh menutup mata terhadap kondisi riil daya beli masyarakat.

“Inflasi yang rendah tentu patut dijaga. Tetapi kalau toko-toko sepi, UMKM lesu, dan masyarakat menahan belanja, maka inflasi rendah itu perlu kita baca sebagai alarm dini, bukan sekadar prestasi,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).

Baca Juga : Harga Cabai di Nias Meroket 119 Persen, Kementan Rehabilitasi Ratusan Hektare Lahan di Sumut

Ia menegaskan, sebagai negara dengan konsumsi rumah tangga lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), kesehatan ekonomi Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan daya beli masyarakat. Jika konsumsi melemah, maka stabilitas makro tidak akan bertahan lama.

“Ekonomi yang sehat itu bukan hanya angkanya bagus, tapi juga dirasakan di warung, pasar, dan rumah tangga. Inflasi rendah harus berjalan seiring dengan pendapatan yang kuat dan lapangan kerja yang aman,” ujar politikus PKS ini.

Menurut Amin, inflasi yang rendah bisa terjadi karena dua hal, yakni efisiensi dan produktivitas, atau sebaliknya, melemahnya permintaan masyarakat. Menurutnya yang perlu diwaspadai adalah jika inflasi rendah lebih disebabkan oleh faktor kedua.

Baca Juga : Pasar Murah Pemkot Medan Hadir di 53 Titik, Ini Daftar Harga Bahan Pokoknya

Amin mendorong agar Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal dengan orientasi yang lebih kuat pada ekonomi riil.

Kebijakan moneter, menurutnya, perlu semakin berpihak pada sektor produktif, khususnya UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Di saat yang sama, kebijakan fiskal harus diarahkan agar dampaknya benar-benar terasa pada peningkatan daya beli masyarakat. Perlindungan terhadap pendapatan dan upah riil pekerja juga menjadi kunci agar rumah tangga merasa aman secara ekonomi, sehingga berani meningkatkan konsumsi.

Seluruh upaya tersebut pada akhirnya harus bermuara pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan berkelanjutan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Inflasi rendah akan benar-benar menjadi kabar baik jika masyarakat merasa aman untuk belanja, usaha berani ekspansi, dan pekerja yakin dengan pendapatannya,” terang Wakil Ketua BAKN DPR ini.

Ia menegaskan, kritik yang disampaikan bukan untuk melemahkan optimisme, melainkan agar Indonesia tidak terjebak dalam perlambatan tersembunyi.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkualitas, dan inklusif. Stabilitas harga adalah fondasi, tapi daya beli rakyat adalah mesinnya. Keduanya harus berjalan bersamaan,” tandas legislator dapil Jatim ini.

(cw1/nusantaraterkini.co)