nusantaraterkini.co, BANDUNG – Suasana mencekam menyelimuti kawasan Jalan Tamansari, Bandung, Selasa (2/9/2025) dini hari. Di tengah kepulan gas air mata, seorang mahasiswa Fisip Universitas Pasundan (Unpas), Econ, menjadi saksi mata sekaligus pengumpul cerita dari balik pagar kampusnya.
Kampus Unpas yang berseberangan langsung dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) hanya dipisahkan jalan kecil. Namun malam itu, jarak tipis itu terasa seperti garis pertempuran.
“Sekitar pukul setengah 12 malam, saya melihat langsung iring-iringan aparat. Puluhan motor masuk ke arah Tamansari,” tutur Econ saat ditemui di kampusnya.
Baca Juga : Kerusuhan di Papua Pegunungan: Mobil Dibakar, Ayah dan Anak Tewas Terpanggang
Sebelum bergerak, kata dia, aparat terlihat berkumpul di SPBU Jalan Wastukencana. Dari sanalah mereka melaju ke arah Unpas. Sementara dari sisi atas, aparat lain masuk melalui Jalan Tamansari Atas dan Sawunggaling.
“Jadi dari dua arah, atas dan bawah. Yang dari atas menyerang ke Unisba, sedangkan dari Wastukencana mengarah ke Unpas,” jelasnya.
Di tengah kekacauan itu, Econ juga melihat lemparan bom molotov. “Memang ada yang melempar, saya melihat sendiri. Tapi saya tidak tahu siapa. Lemparan itu terjadi ketika polisi sudah masuk ke Tamansari. Bisa jadi itu bentuk perlawanan, bisa juga hal lain, saya tidak tahu pasti,” ungkapnya.
Baca Juga : Presiden BEM Unisba Tuding Aparat Serbu Kampus Membabi Buta
Lemparan tersebut diduga menjadi pemicu aparat menembakkan gas air mata secara membabi buta. Dan pagi harinya, bekas-bekasnya masih tertinggal jelas. “Saya sendiri menemukan 35 kaleng bekas gas air mata di area kampus Unpas,” kata Econ.
Temuan itu memperkuat kesaksian mahasiswa lain yang menyebut bahwa kawasan kampus benar-benar menjadi sasaran tembakan. Sementara di media sosial, narasi tentang aparat yang menyerbu area kampus pun sempat jadi perbincangan hangat.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : Guru Madrasah Gelar Demo, Komisi X: Semua Guru Harus Sejahtera
