Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp16.922 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS pada Selasa (27/2/2026). Tren pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia tercatat di Rp16.848 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Sentimen Risk Off Masih Mendominasi
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya sentimen risk off akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Rupiah masih berada dalam tekanan sentimen risk off dari perkembangan perang AS–Israel–Iran,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak mentah dunia juga menjadi perhatian pasar. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membebani ekonomi global, termasuk Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Meski demikian, rupiah disebut tidak menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah bahkan relatif lebih stabil berkat intervensi langsung Bank Indonesia di pasar valas.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.650 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terdalam
Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Tekanan terhadap dolar AS juga tercermin di kawasan Asia. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,40 persen, disusul dolar Taiwan yang turun 0,37 persen.
Peso Filipina melemah 0,33 persen, dolar Singapura turun 0,09 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,09 persen. Dolar Hong Kong dan yuan China masing-masing melemah 0,04 persen terhadap dolar AS.
Sebaliknya, won Korea Selatan dan yen Jepang justru menguat masing-masing 0,36 persen dan 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 99,19, naik dari posisi sebelumnya 99,05. Penguatan indeks dolar ini turut memperbesar tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
(Dra/nusantaraterkini.co).
