Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

DPR Minta Kemenkes Jangan Hanya Jadikan DBD Sebagai Kasus Penyakit Musiman

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Nurhadi. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR Nurhadi meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memfokuskan agenda penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang saat ini trend di tahun 2024 dan sudah mencatatkan hingga puluhan ribu korban.

Politikus NasDem ini pun lantas meminta kasus DBD jangan hanya dijadikan kasus musiman semata.

Baca Juga : Eka Widodo: Putusan MK Soal Kuota Caleg Perempuan Perkuat Demokrasi

"Tiap tahun kejadian luar biasa akibat kasus DBD terjadi di berbagai daerah. Di mana ratusan ribu orang terjangkit setiap tahunnya. Jangan jadikan DBD sebagai penyakit musiman," katanya kepada Nusantaraterkini.co, Rabu (19/6/2024).

Baca Juga : Usulan Penerimaan LPDP Ikuti Latihan Militer, DPR: Kenapa Tidak jika Demi Negara

Lebih lanjut Nurhadi menilai, pemerintah dalam hal ini Kemenkes harus memprioritaskan dan serius melakukan langkah strategis penanganan kasus DBD ini.

Salah satunya, dengan mengintensifkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan termasuk Pemerintah Daerah (Pemda) untuk keberhasilan program nasional gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Gerakan 3M Plus (Menguras, Mengubur dan Mendaur-ulang).

Baca Juga : DBD di Sumsel Capai 1.426 Kasus per Mei 2026: Palembang Tertinggi, Tren Menurun

Ditambahkannya, Kemenkes juga harus mengintensifkan program pencegahan dengue dengan metode nyamuk ber-Wolbachia. Disertai evaluasi yang menyeluruh guna menjadi landasan perluasan program di tahun 2025 dan menyusun rencana program vaksinasi nasional dengue dengan target kelompok umur sesuai hasil kajian dan setelah mendapatkan rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Baca Juga : Waspada Lonjakan DBD, Dinkes Sumsel Prediksi Puncak Kasus Terjadi Hingga Februari

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Pambudi menyampaikan, kemarau diperkirakan akan meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk. Sebab, nyamuk akan sering menggigit ketika suhu meningkat.

“Jadi, kita dapat penelitian, waktu suhunya 25 derajat celcius itu nyamuk menggigitnya 5 hari sekali. Tapi, kalau suhunya 20 derajat celcius, nyamuk akan menggigit 2 hari sekali. Ini dapat meningkatkan potensi kasus terjadi saat Juli dan Agustus saat suhu udara tinggi,” kata Direktur dr Imran Pambudi.

Baca Juga : Kasus DBD Sumsel 2025 Tembus 4.130, Kota Palembang Catat Jumlah Tertinggi

Imran melanjutkan, kasus DBD di Indonesia mengalami pemendekan siklus, yang mengakibatkan peningkatan Incidence Rate (IR) dan penurunan Case Facility Rate (CFR).

Baca Juga : Dinkes Sumsel Siapkan 5.000 Vaksin DBD Gratis untuk Anak di Palembang

“Terjadi pemendekan siklus tahunan dari 10 tahun menjadi 3 tahun bahkan kurang, yang disebabkan oleh fenomena El Nino,” katanya.

(cw1/nusantaraterkini.co)