Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Erick Tohir Rencana Borong Dolar AS, Airlangga Nilai BUMN Tak Bijak

Editor :  hendra
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, JAKARTA - Melemahnya rupiah terhadap dolar AS membuat pemerintah Indonesia kewalahan. Banyak transaksi menggunakan mata uang dolar, termasuk bisnis dan utang di BUMN membuat pemerintah harus mutar otak.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Kamis (18/4/24), melemah 41 poin atau 0,25 persen di level Rp 16.179 per USD.

Karena itu, Menteri BUMN Erick Thohir meminta BUMN melakukan langkah cepat dalam meminimalisasi dampak global melalui peninjauan ulang ulang biaya operasional belanja modal, utang yang akan jatuh tempo, rencana aksi korporasi, serta melakukan uji stres.

Baca Juga : Ini Daftar Pengusaha Nasional yang Sumbang Total Rp 23 M untuk Timnas U-23 Jelang Semifinal Piala Asia

Dia juga meminta BUMN perbankan menjaga secara proporsional porsi kredit yang terdampak oleh volatilitas rupiah, suku bunga, dan harga minyak. Selain itu, dia juga minta BUMN memborong dolar AS dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat.

"BUMN yang terdampak pada bahan baku impor dan BUMN dengan porsi utang luar negeri (dalam dolar AS) yang besar seperti Pertamina, PLN, BUMN Farmasi, MIND ID, agar mengoptimalkan pembelian dolar AS dalam jumlah besar dalam waktu singkat," katanya dalam keterangan resmi pada Kamis (18/4/24) lalu.

Dia juga minta BUMN melakukan kajian sensitivitas terhadap pembayaran pokok dan atau bunga utang dalam dolar yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Baca Juga : Nathan Tjoe-A-On Diizinkan Kembali Bela Timnas U-23 di Piala Asia

Airlangga Nilai Tak Bijak

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, punya pandangan lain untuk mengatasi melemahnya rupiah. Dia menilai tidak bijaksana kalau membeli dolar AS saat nilai tukar rupiah sedang melemah.

Pernyataan Airlangga tersebut untuk menanggapi keterangan tertulis dari Menteri BUMN Erick Thohir yang meminta BUMN untuk membeli dolar AS dalam jumlah besar dan singkat.

Baca Juga : Program HK Mengajar Hadir di Medan, Bekali Siswa SMKN 14 Dunia Kerja dan Teknologi Konstruksi

"Kalau situasi dolar lagi menguat tentu tidak bijaksana untuk beli dolar di harga tinggi. Tentu kita perlu meredam kebutuhan terhadap dolar," kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (18/4/24).

Untuk itu, Airlangga meminta kementerian dan lembaga (K/L) untuk menahan impor konsumtif di tengah pelemahan rupiah. "Kita meminta kalau impor konsumtif ya ditahan-tahan dulu dalam situasi seperti ini," ungkap Airlangga.

Airlangga mengungkapkan pemerintah memiliki cara untuk memperkuat fundamental rupiah, salah satunya melalui aturan devisa hasil ekspor (DHE). Adapun, cadangan devisa yang kuat dan stabil bisa menjaga dan memperkuat posisi nilai tukar rupiah terhadap USD.

Baca Juga : Prabowo Dinilai Gagal Bangun Optimisme Ekonomi dalam Pidato Kebijakan Ekonomi dan Fiskal di DPR

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai pembelian barang boleh dilakukan jika memang diperlukan. "Tetapi kalau sifatnya konsumtif ya seperti yang disampaikan Pak Menko tadi itu tadi kita tahan dulu," tegas Suahasil.

Suahasil mengimbau para eksportir untuk menyimpan DHE dalam bentuk valuta asing (valas) di dalam negeri. Khususnya eksportir di sektor ekstraktif seperti pertanian dan perkebunan.

"Devisa hasil ekspor kita terutama beberapa sektor yang ekstraktif, sektor pertanian perkebunan itu dibawa kembali pulang ke Indonesia untuk periode waktu tertentu. Kalau dia pulang itu akan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia," tambahnya.

(Dra/nusantaraterkini.co)