Nusantaraterkini.co, MEDAN - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara (Sumut) menggelar aksi protes terkait kerusakan habitat Orangutan Tapanuli di depan kantor Jardine Cycle dan Carriage Limited di London, Inggris.
Protes itu digelar sebagai bentuk desakan kepada Jardine Matheson, induk perusahaan PT Agincourt Resources yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Sumut, agar bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di ekosistem Batang Toru, Sumut.
Baca Juga : Pemeriksaan Administrasi Selesai, Sidang Perdata Pembacaan Gugatan WALHI Sumut Digelar Tatap Muka 10 Juni
Diketahui, Batang Toru merupakan rumah bagi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies orangutan paling terancam punah di dunia. Dengan populasi yang tersisa kurang dari 800 individu, orangutan ini kini berada di ambang kepunahan.
Baca Juga : PT TPL Digugat WALHI, Desak Pemulihan Ekosistem Terdampak Bencana Ekologis
Terisolasi di hutan-hutan Batang Toru yang mencakup wilayah Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan, keberadaan mereka semakin terdesak akibat proyek-proyek besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dan tambang emas Martabe yang memperparah deforestasi di wilayah tersebut.
Direktur Walhi Sumut, Rianda Purba, mengatakan, aksi yang berlangsung di London itu, menegaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh tambang emas Martabe telah menghilangkan lebih dari 114 hektar hutan dalam 15 tahun terakhir.
Baca Juga : Izin Tambang Martabe Dicabut, PT Agincourt Resources Layangkan Surat Klarifikasi
“Ini bukan hanya tentang kehilangan habitat satwa liar. Hutan Batang Toru juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat adat yang selama ratusan tahun hidup berdampingan dengan alam,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (22/9/2024).
Baca Juga : Geger Isu Pencabutan Izin PT Agincourt Resources, Saham United Tractors (UNTR) Terjun Bebas
Selain mengancam keberadaan Orangutan Tapanuli, diakatakannua, aktivitas tambang juga merusak daerah aliran sungai (DAS) yang merupakan sumber air utama bagi 100.000 warga di hilir.
“Jardine Matheson harus bertanggung jawab atas kerusakan ekosistem ini. Bukan hanya flora dan fauna yang terdampak, tetapi juga hak-hak dasar masyarakat lokal untuk air bersih dan lingkungan sehat,” ujarnya.
Selanjutnya, aksi itu juga mendapat dukungan dari Friends of the Earth United Kingdom, yang menyerukan agar publik lebih peduli terhadap dampak industri yang merusak lingkungan.
Perwakilan Friends of the Earth UK, Nick Rau menyampaikan aksi tersebut merupakan upaya pihaknya untuk menyampaikan pesan terkait dampak buruk terkait bisnis yang dilakukan Jardine Matheson di Indonesia khususnya di Sumatera.
"Kami ingin dunia tahu bahwa bisnis yang dilakukan Jardine Matheson di Indonesia mengancam salah satu hutan terakhir yang tersisa di Sumatera, dan ini berdampak langsung pada masa depan keanekaragaman hayati dunia," ujarnya, mengutip Rianda.
Dalam tuntutannya, Walhi meminta Jardine Matheson untuk segera menghentikan eksplorasi dan eksploitasi di habitat Orangutan Tapanuli, serta menerapkan kebijakan tanpa deforestasi yang tegas. Mereka juga mendesak agar perusahaan menghormati hak masyarakat adat dan bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang telah terjadi.
"Protes di London ini menjadi suara global untuk memperjuangkan kelestarian hutan Batang Toru dan habitat Orangutan Tapanuli, sekaligus menjadi panggilan bagi perusahaan multinasional untuk lebih peduli terhadap dampak lingkungannya," tutupnya.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
