Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (22/1/2025) Harga emas mencapai puncak tertinggi lebih dari 11 minggu tidak jauh dari puncak tertinggi sepanjang masa yang dicapai tahun lalu.
Didorong oleh permintaan safe haven yang berasal dari ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan dolar yang lebih lemah.
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, Rabu (22/1), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 2.751,89 per ons pada pukul 05.02 GMT.
Baca Juga : Daftar Harga emas di Pegadaian terbaru hari ini Senin (5/5/2025) Produk Antam, Galeri 24 dan UBS
Setelah mencapai level tertinggi sejak 1 November di awal sesi dan mendekati rekor tertingginya di US$ 2.790,15 yang dicapai pada bulan Oktober.
Harga emas berjangka AS naik 0,3% menjadi US$ 2.768,40.
Masih ada ketidakpastian mengenai kapan Trump ingin menerapkan kebijakannya pada mitra dagang utama AS.
Yang menyebabkan banyak ketidakpastian terhadap dolar, yang merupakan katalis utama jangka pendek yang mendorong nada bullish pada harga emas," kata Kelvin Wong, analis pasar senior OANDA untuk Asia Pasifik.
Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
Emas dianggap sebagai investasi yang aman selama ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini 23 Mei 2026: Turun ke Rp2.773.000 per Gram
Trump berjanji akan mengenakan tarif kepada Uni Eropa dan mengatakan bahwa pemerintahannya sedang membahas tarif 10% untuk barang-barang yang diimpor dari China mulai 1 Februari.
Daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi dapat berkurang jika kebijakan Trump, yang dianggap inflasioner, menyebabkan Federal Reserve mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Suku bunga yang lebih tinggi melemahkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga : Harga Emas Antam Medan 11 Mei 2026 Anjlok ke Rp2.819.000 per Gram, Cek Detailnya!
The Fed akan bertemu minggu depan dengan fokus tertuju pada kebijakan pemerintahan Trump yang baru dan mata lainnya pada pasar obligasi yang telah menaikkan biaya pinjaman bahkan ketika bankir sentral AS telah memangkas suku bunga.
Dalam pertemuan tersebut, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil.
"Ketidakpastian makro dan perdagangan serta prospek situasi fiskal yang memburuk mendukung permintaan aset safe haven.
Pembelian oleh bank sentral menetapkan basis permintaan yang kuat, tetapi kami memperkirakan permintaan investasi akan meningkat, mengimbangi kerugian dalam permintaan fisik," kata ANZ dalam sebuah catatan.
