Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Harga minyak dunia diperkirakan masih akan bergerak naik dalam waktu dekat, seiring belum normalnya arus pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyebut lonjakan harga kemungkinan mencapai puncaknya dalam beberapa pekan ke depan, tepat saat aktivitas kapal mulai kembali stabil di kawasan tersebut.
Ia menegaskan, selama jalur strategis itu belum sepenuhnya pulih, tekanan terhadap harga energi global akan tetap tinggi.
Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama
“Kita kemungkinan melihat harga energi bertahan di level tinggi, bahkan masih berpotensi naik sampai lalu lintas kapal kembali signifikan di Selat Hormuz,” ujarnya dalam forum ekonomi di Washington dikutip Selasa (14/4/2026).
Meski demikian, pergerakan harga minyak sempat terkoreksi. Data terbaru menunjukkan minyak Brent turun sekitar 2 persen ke kisaran USD 97 per barel, sementara minyak mentah jenis WTI juga melemah ke bawah level yang sama.
Penurunan ini dipicu oleh kabar adanya peluang negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata, sehingga memberi harapan pada stabilitas pasokan global.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Ketidakpastian Konflik Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari kata normal. Sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, Iran membatasi akses kapal di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia. Gangguan ini menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, Amerika Serikat merespons dengan memperketat pengawasan militer di kawasan tersebut, bahkan memperluas blokade hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab setelah upaya diplomasi belum membuahkan hasil.
Kondisi ini membuat pasar minyak global berada dalam tekanan, mengingat distribusi energi sangat bergantung pada kelancaran jalur tersebut.
Baca Juga : IRGC: 23 Kapal Lintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Ketat Iran
Selain faktor geopolitik, perkembangan di Venezuela juga turut menjadi sorotan. Pemerintah sementara negara itu dilaporkan mulai mendorong investasi asing di sektor energi, yang berdampak pada peningkatan produksi minyak hingga 25 persen sejak awal tahun.
Langkah ini diharapkan dapat membantu menambah pasokan global, meski belum cukup kuat untuk menahan lonjakan harga dalam jangka pendek.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : Harapan Negosiasi Iran-AS Tekan Harga Minyak
