Nusantaraterkini.co, MEDAN - Hari Kunjung Perpustakaan Nasional yang jatuh setiap 14 September mestinya jadi momentum merayakan buku dan para pembacanya.
Namun di simpang rel kereta api, di Jalan Hitam, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, kondisinya berbeda.
Lokasi yang terdiri dari dua lorong itu hanya terlihat tumpukan buku dan aktivitas para pedagang yang sibuk membungkus sejumlah buku saja.
Baca Juga : Pameran Buku Chappy Hakim, Menghidupkan Kembali Ambisi Dirgantara Indonesia
Selain itu, deretan kios-kios yang tampilannya sergam berwarna biru juga banyak tutup. Hanya beberapa kios yang menunjukkan aktivitas jualan.
Sementara itu, di tepi Jalan HM Yamin, tak jauh dari plang perlintasan kereta api, sejumlah perempuan yang juga pedagang buku duduk berjejer di bangku panjang yang sama. Mereka terlihat menyapa para pengendara.
“Belok-belok, beli buku,” ucap salah seorang pedagang sambil menunjuk area parkir kendaraan roda dua.
Sesaat setelah itu, mereka kemudian menghampiri kita dan menanyakan selera buku seperti apa yang akan dibeli.
Di lorong kedua, bagian sebelah kanan. Donald (52), seorang pedagang buku bekas terlihat sibuk membungkus sejumlah buku menggunakan sejenis kertas berwarna cokelat. Sebuah tumpukan buku juga terlihat di dekatnya.
Beragam buku bacaan yang dia jual. Buku-buku tentang pertanian, sastra, hingga tentang jurnalistik sedang tersedia. Hampir dua dekade pria itu, menjalani kehidupan sebagai penjual buku bekas.
Baca Juga : The Land of Human and Orangutan: Buku Etnografi tentang Relasi Manusia dan Orangutan di Sumatera Diluncurkan
Namun, belakangan ini, kata Donald, kurang lebih sudah empat bulan dia mendengar isu atau kabar tentang penggusuran lokasi pasar buku tersebut.
“Kabarnya juga sudah dilakukan pengukuran tanah,” kata Donald yang masih sibuk membungkus sejumlah buku, pada Minggu (14/9/2026).
Saat yang bersamaan, Donald, juga menceritakan rentetan peristiwa relokasi para pedagang buku di Kota Medan, sejak di Lapangan Merdeka hingga ditempatkan di kawasan rel kereta api oleh Pemerintah Kota Medan, pendapatan dan kunjungan para pembeli, kata Donald, menyusut.
“Kalau dibandingkan di Lapangan Merdeka, Jalan Pegadaian, di sini pembelinya sepi. Cuma sekarang, saya dan beberapa pedagang lain sudah mulai dari online lah,” ujar Donald.
Dilain sisi, Abu yang sejak tahun 1989 berjualan mengatakan, Jika suasana di lokasi tersebut tidak hidup, dalam artian gerakan-gerakan literasi.
“Suasananya mati. Saya sebagai pedagang berharap sebenarnya, jika pasar buku ini bisa di jadikan jadi ruang membangun budaya baca di kota Medan,” kata Abu di kawasan parkir kendaraan.
Baca Juga : Cerita Teguh Santosa Pertama Kali Injak Korea Utara: Ingat Film The Truman Show
Bagi Abu, keberadaan pasar Buku Medan bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan bagian dari warisan sejarah dan budaya Kota Medan yang harus tetap hidup. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka terancam hilang.
“Budaya itu bukan berarti harus bangunan bersejarah. Kami pedagang buku ini pun termasuk bagian dari warisan budaya. Bila orang bertanya tentang Titi Gantung, pasti yang diingat itu buku,” kata Abu.
Diketahui, lokasi para pedagang buku berdiri diatas lahan milik PT Kereta Api Indonesia. Sejak mereka direlokasi imbas revitalisasi dari Lapang Merdeka pada tahun 2013 lalu, Pemerintah Kota Medan saat itu, kemudian meng-inisiasi bangunan yang saat ini menjadi kios yang digunakan oleh para pedagang.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
