Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Indonesia 5 Besar Pengguna ChatGPT, DPR Ingatkan Risiko Ketergantungan AI di Sekolah

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Luki Setiawan
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Andi Muawiyah Ramly disela-sela Raker Komisi X DPR. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota Komisi X DPR Andi Muawiyah Ramly menyoroti meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, khususnya di sektor pendidikan.

Ia mengingatkan, tren tersebut perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Baca Juga : Lestari Moerdijat: AI di Sekolah Harus Perkuat Berpikir Kritis, Bukan Gantikan Nalar

Berdasarkan data yang disampaikan oleh OpenAI melalui Head of Education Asia Pacific, Raghav Gupta, Indonesia saat ini masuk dalam 5 besar negara dengan penggunaan ChatGPT tertinggi untuk pembelajaran.

Baca Juga : DPR Ingatkan Sekolah Status Imunisasi Tidak Boleh Jadi Alasan Tolak Siswa Baru

Menanggapi hal tersebut, Andi Muawiyah Ramly yang akrab disapa Amure menilai capaian itu tidak serta-merta menjadi prestasi jika tidak diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia.

“Saya kira ini bukan semata prestasi bagi anak bangsa. AI di satu sisi memang membantu, tetapi di sisi lain, ketergantungan terhadap AI justru berbahaya. Tingkat literasi, inovasi, dan kreativitas bisa tergerus jika penggunaannya tidak dikendalikan dengan bijak,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga : Habib Syarief Soroti Mahalanya SPI Jalur Mandiri PTN, Minta Tak Ada Lagi Jalur Mandiri Tambahan

Ia menilai, fenomena ini menjadi peringatan serius bahwa transformasi digital di dunia pendidikan harus dibarengi dengan kesiapan mental, metode belajar yang kuat, serta penguatan karakter peserta didik. 

Amure juga mengkritik pemerintah yang dinilai belum optimal dalam mengantisipasi dampak masif penggunaan AI di ruang belajar.

“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus besar ini. Harus ada langkah mitigasi yang serius dan terukur. Jangan sampai teknologi justru membuat generasi kita kehilangan daya juang intelektual,” tegasnya.

Sebagai solusi, Amure mendorong pemerintah untuk memperkuat kampanye literasi digital yang menekankan penggunaan AI secara bijak, serta menegaskan bahwa teknologi tersebut hanyalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

Selain itu, ia juga mengusulkan integrasi etika penggunaan AI dalam kurikulum pendidikan, serta penerapan metode pembelajaran yang tetap mengutamakan kreativitas dan analisis mandiri.

“Publik harus diberi pemahaman bahwa AI itu alat bantu, bukan alat utama dalam inovasi dan kreasi. Kalau ini tidak ditegaskan, kita berisiko menciptakan generasi yang serba instan, tapi minim kedalaman berpikir,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Amure menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembangunan kapasitas manusia.

“AI harus kita kuasai, bukan kita yang dikuasai. Kuncinya ada pada literasi, pengawasan, dan keberanian untuk tetap menempatkan manusia sebagai pusat inovasi,” pungkasnya.

(LS/Nusantaraterkini.co)