Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Inovasi Edukator Museum Negeri Medan, dari Barcode Koleksi Hingga Pemanfaatan AI

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Kriswando Sinaga
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Museum Negeri Medan melakukan transformasi besar-besaran untuk menarik minat generasi Z di tengah meningkatnya angka literasi berdasarkan data BPS 2026.

Melalui pendekatan digital seperti penggunaan AI, video pendek, hingga penyediaan spot foto estetis. Pihak museum berupaya mengubah persepsi 'membosankan' menjadi tempat nongkrong yang edukatif.

Baca Juga : Peresmian Museum Besar Mesir Ditunda Akibat Ketegangan Israel dan Iran

Edukator Museum Negeri Medan, Kevin Pangaribuan, mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini adalah bersaing dengan tren nongkrong di kafe.

Baca Juga : MPR: Pentingnya Melestarikan Seni, Budaya dan Museum sebagai Jembatan Peradaban Bangsa

Untuk itu, museum kini dikembangkan menjadi ruang publik yang menyediakan taman dan area khusus fotog guna memenuhi kebutuhan gaya hidup Gen Z.

"Kami mengikuti cara mereka. Gen Z suka nongkrong dan foto, jadi kami buatkan tempatnya. Mereka juga lebih suka konten singkat, maka kami buat video edukasi pendek daripada narasi panjang yang membosankan," ujar Kevin dalam wawancara di lokasi museum, Kamis (23/4).

Baca Juga : Dari Bisnis Ponsel ke Kafe Estetik, Vidha Coffee House Tawarkan Tempat Nongkrong Estetik dengan Full Bunga

Selain perubahan fisik, museum juga tengah melakukan digitalisasi terhadap sekitar 7.000 koleksinya.

Baca Juga : Wisata Kota, Museum Negeri Sumatera Utara Cocok Untuk Edukasi Anak

Program unggulan yang sedang berjalan adalah penerapan sistem barcode pada setiap objek, yang memungkinkan pengunjung mengakses data sejarah langsung dari perangkat Android mereka.

Untuk pengunjung anak-anak, pihak museum mulai memanfaatkan teknologi AI guna memberikan penjelasan yang lebih interaktif.

Meski gencar melakukan digitalisasi, Kevin menekankan bahwa akurasi sejarah tetap menjadi prioritas utama.

Proses penyusunan narasi digital kini melibatkan konsultasi ketat dengan tim ahli cagar budaya dan akademisi untuk menghindari miskomunikasi sejarah yang pernah terjadi di masa lalu.

Langkah ini diharapkan dapat menjadikan museum sebagai pusat literasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan harga tiket yang terjangkau dan fasilitas digital yang semakin lengkap, Museum Negeri Medan optimis dapat menjadi destinasi utama bagi anak muda di Sumatera Utara.

(cw1/nusantaraterkini.co)