Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Jawab Sindiran Terhadap Gimik Gemoy, Nusron: Tanda Iri

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Nanda Prayoga
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Sekretaris TKN Prabowo-Gibran, Nusron Wahid. (Foto: Nanda Prayoga)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Jawab Sindiran Terhadap Gimik Gemoy, Nusron: Tanda Iri

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran Nusron Wahid menanggapi santai adanya sindiran terhadap gimik gemoy Prabowo Subianto. Nusron menilai sindiran menandakan sifat iri.

Baca Juga : GREAT Institute: 'State-Driven Economy' Strategi Prabowo Atasi Ketimpangan dan Ketergantungan Global

“Ya namanya orang sindiran kan tanda iri, namanya orang iri kan kita doakan supaya bersyukur,” ucapnya di sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TKN Prabowo-Gibran di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (1/12/2023).

Baca Juga : Kasus Korupsi BGN, Pakar: Bisa Jadi Pintu Masuk Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis

Sebelumnya, Nusron menjelaskan, bahwa julukan gemoy itu lahir secara organik (alamiah) dari masyarakat untuk Prabowo. Karenanya dia pun mempertanyakan mengapa predikat gemoy dipersoalkan seolah membungkam aspirasi masyarakat.

Diketahui, joget “gemoy” Prabowo memang mendapatkan perhatian dari berbagai pihak termasuk dari rival politik. Wakil ketua Majelis Syuro PKS Sohibul Iman mengaku prihatin dengan hal tersebut.

Baca Juga : Gibran Ingin Temui Rivalnya di Pilpres, Relawan TKN: Contoh Baik Sebagai Kader Bangsa

"Saya sangat prihatin, untuk memenangkan demokrasi, persaingan demokrasi ini sekarang lebih banyak gimiknya, sekarang ada istilah gemoy dan santuy," katanya saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Program Kampanye Nasional PKS yang dilaksanakan di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Minggu (26/11/2023) kemarin.

Baca Juga : Pengamat: Pertemuan Rosan ke Megawati hanya Sekedar Silahturahmi Saja

Menurutnya, narasi ini tidaklah sehat, karena dianggapnya seakan-akan fitur pemimpin Indonesia yang dibutuhkan adalah figur gemoy dan santai.

"Seakan-akan yang bisa memimpin negeri ini adalah mereka yang gemoy, gemoy, atau gemoy. Saya enggak tahu juga itu, Gemoy apa gemoy? Gemoy atau santuy ini tentu sesuatu yang tidak sehat," katanya.

(mr6/nusantaraterkini.co)