nusantaraterkini.co, MEDAN - Pagi itu, Kamis (7/8/2025), langit Pangkalpinang cerah. Adityawarman (48) mengenakan kaus biru dan celana jeansnya yang biasa, berpamitan pada keluarga.
“Bapak mau ke kebun, ketemu orang Swiss-Bell,” ucapnya singkat. Itu adalah kali terakhir keluarganya mendengar suaranya.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 11.30 WIB, nomor teleponnya tak lagi aktif. Pesan-pesan yang dikirim hanya berstatus centang satu. Kekhawatiran mulai mengendap di hati keluarga. Malam itu mereka menunggu, berharap ia pulang. Tapi yang datang justru keheningan.
Baca Juga : Dikeluhkan Soal Akses Informasi, Ketua PWI Madina Minta Kapolres Evaluasi Kasi Humas
Keesokan paginya, laporan resmi dilayangkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Babel. Tim Jatanras Ditreskrimum bergerak cepat, mengikuti jejak langkah terakhir sang jurnalis senior itu. Semua petunjuk mengarah ke sebuah kebun di kawasan Dealova, Kelurahan Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang.
Jumat siang, kabar itu akhirnya pecah. Di dasar sumur kebun miliknya, tubuh Adityawarman ditemukan. Luka sayatan benda tajam menjadi saksi bisu bahwa ia tak pergi dengan tenang. Dugaan awal, ia dibunuh sebelum jasadnya dijatuhkan ke sumur.
“Penemuan ini berawal dari laporan keluarga. Kami tindaklanjuti dan menemukan korban di kebun miliknya,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Babel, Kombes Pol Muhammad Rivai Arvan.
Baca Juga : Debi Kembali Pimpin PWI Balikpapan Periode 2026–2029
Penyelidikan cepat membuahkan hasil. Polisi mencurigai penjaga kebun korban sendiri. Satu terduga pelaku akhirnya diamankan di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, saat mengendarai mobil Daihatsu Terios putih BN 1397 TE milik korban. Motifnya? Masih dalam pendalaman, namun polisi tak menutup kemungkinan kaitan dengan urusan pribadi atau pekerjaan sang jurnalis.
Bagi rekan-rekan sejawatnya, Adityawarman bukan sekadar wartawan. Ia adalah sosok yang lantang memperjuangkan kebebasan pers, berani membongkar isu publik yang sensitif, dan dikenal tak kenal kompromi terhadap kebenaran. Selain memimpin media lokal Okeyboz.com, ia juga aktif sebagai pengurus Pers Pro Jurnalismedia Siber (PJS) wilayah Bangka Belitung.
“Kami kehilangan sosok penting. Dia wartawan berintegritas. Kami mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan,” kata seorang rekan jurnalis dengan nada bergetar.
Kini, jenazahnya berada di RS Bhayangkara Polda Babel untuk proses autopsi, sebelum dimakamkan di TPU keluarga. Kapolda Babel, Irjen Pol Dwi Tunggal Jaladri, menegaskan komitmennya: “Tidak ada toleransi terhadap pelaku kekerasan, apalagi kepada jurnalis. Proses hukum akan berjalan sampai tuntas.”
Di mata keluarga, Adityawarman adalah ayah, suami, sekaligus pahlawan kata-kata. Di mata dunia pers, ia adalah pejuang kebebasan informasi. Kepergiannya menambah panjang daftar jurnalis Indonesia yang gugur di tengah perjuangan. Dan bagi semua yang mengenalnya, keadilan kini menjadi janji yang harus dipenuhi.
(Dra/nusantaraterkini.co).
