Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Jubir TKN Ungkap 3 Kelemahan Argumen Mahfud MD Terkait Carbon Capture and Storage

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Juru Bicara TKN Prabowo-Gibran Billy Mambrasar (tengah). (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Jubir TKN Ungkap 3 Kelemahan Argumen Mahfud MD Terkait Carbon Capture and Storage

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Billy Mambrasar mengungkap tiga kelemahan argumen Mahfud MD terkait Carbon Capture and Storage (CCS) saat debat calon wakil presiden (cawapres) pada, Jumat (22/12/2023) malam.

Baca Juga : Gibran Ingin Temui Rivalnya di Pilpres, Relawan TKN: Contoh Baik Sebagai Kader Bangsa

Billy menerangkan, CCS merupakan teknologi yang memampukan agar emisi karbon yang dihasilkan oleh giat industri manufaktur apapun dapat di simpan ke dalam bumi dengan tujuan mengurangi emisi karbon di Indonesia yang jumlahnya sudah mencapai 1,24 gigaton di tahun 2022 berdasarkan data European Commision. Menurutnya, ada tiga kelemahan argumen Mahfud MD.

Baca Juga : Pengamat: Pertemuan Rosan ke Megawati hanya Sekedar Silahturahmi Saja

Pertama, ungkap alumni Fakultas Teknik Pertambangan Perminyakan ITB Engineer Migas ini, bahwa Mahfud MD menyebut topik tersebut tidak berhubungan dengan tema debat terkait ekonomi dan perdagangan internasional. 

Dia menegaskan, kenyataannya topik yang diulas Gibran Rakabuming Raka bukan hanya eksklusif berkaitan dengan topik energi dan lingkungan, akan tetapi malah lebih condong ke investasi dan perdagangan Internasional yang akan meningkatkan pendapatan negara.

Baca Juga : Mahfud MD Tegaskan Kritik Saiful Mujani Bukan Makar, Melainkan Kebebasan Berpendapat

"Hubungannya dengan peningkatan pendapatan negara bahwa setiap perusahaan, industri, atau bahkan negara yang ingin memasukkan emisi karbon mereka ke fasilitas milik Indonesia, karena mereka takut didenda kalau melepaskannya ke udara, harus membayarkan ke Indonesia sebagai pemilik fasilitas tersebut, dengan tarif yang sangat mahal pertonnya," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/12/2023).

Baca Juga : MK Didorong Respons Peraturan Polisi di Jabatan Sipil Agar Rakyat Paham

Selain itu, Billy juga menyampaikan beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo membawa pulang investasi sebesar Rp240 triliun untuk membangun fasilitas penangkapan dan penyimpan karbon ini dari perusahaan Amerika Serikat yang bermitra dengan Pertamina.

Dia menyebutkan, berdasarkan data Exxon mobil, sekira Rp31 triliun akan di alokasikan untuk pembangunan fasilitas dengan daya tampung hingga 3 miliar ton karbon dan diperuntukan untuk menyerap karbon, bukan hanya dari Indonesia, tetapi dari negara-negara sekitar dengan tarif tertentu.

Kedua, Mahfud MD mengatakan, bahwa instrument hukumnya harus disiapkan dengan proses telaah akademis yang harus dilakukan terlebih dahulu. Kenyataanya, saat ini Perpres terkait penangkapan dan penyimpanan karbon ini sedang difinalkan oleh Kementerian ESDM bersama Kemenkomarves dan akan diluncurkan segera menjadi sebuah prestasi Presiden Joko Widodo yang tentunya akan dilanjutkan oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran.

Ketiga, Mahfud MD juga menyinggung Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) yang sebenarnya tidak relevan dengan topik debat malam ini.  Billy menyampaikan Gibran lebih relevan karena juga menyinggung tentang hilirisasi di semua sektor.

Dia menerangkan bahwa penangkapan dan penyimpanan parbon atau Carbon Capture and Storage ini adalah wujud hilirisasi dari semua sektor manufaktur dan industri, khususnya sektor energi.

Selanjutnya, dengan gamblang Billy menjelaskan relevansi antara investasi dan bisnis yang ditanyakan Gibran kepada Mahfud MD. Berdasarkan data MIT Energy harga pasaran untuk menyimpan karbon adalah 85 dolar per ton.

"Sehingga total pendapatan yang akan diterima oleh Indonesia setelah memiliki fasilitas ini nantinya mencapai 255 miliar dolar, atau hampir Rp4.000 triliun," kata pria yang memiliki pengalaman sembilan tahun di perusahaan internasional dalam bidang energi ini.

Dia menyebut data agensi energi internasional, sebuah badan dunia yang mengelola energi global bahwa Indonesia merupakan satu dari enam negara yang tengah mengembangkan CCS. Serta lima negara lain merupakan negara-negara maju.

"Rp4.000 triliun merupakan pendapatan yang sangat signifikan untuk Indonesia, belum terhitung manfaat lain seperti penyerapan tenaga kerja, atau prestasi internasional Indonesia, sebagai negara yang mendorong pembangunan ekonomi hijau dengan teknologi, hebat Indonesia," pungkasnya.

(HAM/nusantaraterkini.co)