Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kemlu RI Pastikan Sejauh Ini Tidak Ada WNI Jadi Korban Kerusuhan di Papua Nugini

Editor :  Annisa
Reporter :  Shakira
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co - Kelompok tentara dan polisi mulai berpatroli di ibu kota Papua Nugini (PNG), Port Moresby, pada Jumat (12/1/2024). Fenomena ini terjadi sehari setelah pemerintah PNG mengumumkan status keadaan darurat sebagai tanggapan terhadap kerusuhan dan kekerasan yang menewaskan sedikitnya 16 orang.

Dilansir The Guardian, Jumat, aksi penjarahan dan kerusuhan di ibu kota negara itu pada Kamis (11/1) terjadi saat ratusan orang turun ke jalan setelah polisi melakukan aksi mogok kerja karena perselisihan gaji.

Imbas dari kerusuhan, Perdana Menteri PNG James Marape mengumumkan keadaan darurat selama 14 hari, memberhentikan beberapa pejabat, dan menempatkan lebih dari 1.000 tentara dalam keadaan siaga.

Baca Juga : Puan Maharani Tekankan Perlindungan WNI di Luar Negeri di Tengah Ketidakpastian Global

Merespons hal itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melalui perwakilannya, KBRI Port Moresby, memastikan bahwa sejauh ini tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban kerusuhan.

"KBRI Port Moresby telah berkoordinasi dengan Kemlu dan Kepolisian PNG untuk pelindungan dan peningkatan keamanan bagi para WNI," ungkap Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kemlu RI Judha Nugraha, dikutip dari Liputan6.com, Jumat.

Judha menambahkan, KBRI Port Moresby terus menjalin komunikasi dengan para WNI dan mengimbau agar mereka selalu berhati-hati, meningkatkan kewaspadaan, serta tetap tinggal di kediaman sekiranya tidak ada keperluan yan sangat mendesak.

Baca Juga : BP3MI Pastikan 15 WNI di Kamboja Aman Meski Masih Terkendala Dokumen

"Segera hubungi hotline KBRI jika memerlukan bantuan kedaruratan."

Kemlu RI mencatat terdapat 1.317 WNI di PNG.

(Ann/Nusantaraterkini.co)

Baca Juga : Konflik Suku di Papua Nugini: Ketika Emas Menjadi Kutukan