Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kinerja Perdagangan: Surplus Terjaga, Waspada Penurunan Negara Mitra

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Grafik perdagangan luar negeri Indonesia(foto:BPS)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coJAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada penghujung tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar US$2,66 miliar pada periode November 2025. Meski secara tahunan nilai ekspor mengalami kontraksi, posisi surplus tetap terjaga berkat performa perdagangan nonmigas yang dominan.

​Secara kumulatif, kinerja perdagangan sepanjang Januari hingga November 2025 menunjukkan tren yang solid dengan total surplus mencapai US38,54 miliar. Angka ini merupakan hasil dari total ekspor sebesar US256,56 miliar melawan total impor senilai US$218,02 miliar.

Baca Juga : Ekspor Sumut Triwulan I Tembus US$2,9 Miliar, Produk Kimia Jadi Motor Penggerak

​Dikutip dari Berita Resmi Statistik (BRS) BPS RI, Kamis (8/1/2026), dalam struktur neraca perdagangan nonmigas, Indonesia masih mengandalkan pasar tradisional untuk meraup pundi-pundi devisa. Tiongkok tetap kokoh sebagai mitra dagang utama dengan nilai ekspor mencapai US58,24 miliar selama sebelas bulan pertama tahun 2025. Di posisi kedua, Amerika Serikat menyumbang US28,14 miliar, disusul oleh India dengan nilai US$16,44 miliar.

Baca Juga : Sektor Industri dan Lemak Nabati Perkuat Ekspor Sumatera Utara, Tembus US$1 Miliar di Awal Tahun 2026

​Peningkatan ekspor yang cukup mencolok juga terlihat pada perdagangan dengan Singapura, yang mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 31,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dinamika Impor dan Defisit di Beberapa Lini

Baca Juga : Dr Handi Risza: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Sepenuhnya Terasa di Masyarakat

​Di sisi lain, ketergantungan impor Indonesia masih terpusat pada beberapa negara produsen utama. Tiongkok tidak hanya menjadi tujuan ekspor terbesar, tetapi juga menjadi pemasok impor utama ke tanah air dengan nilai mencapai US$77,52 miliar atau mencakup 41,10 persen dari total impor nonmigas. Kondisi ini menempatkan Tiongkok sebagai mitra dagang dengan nilai transaksi dua arah terbesar bagi Indonesia.

Baca Juga : Siapkan 7.800 Petugas Sensus Ekonomi, Agenda Pendataan Door to Door Dimulai 15 Juni 2026

​Selain Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat juga menjadi pemasok utama barang impor, masing-masing dengan nilai US13,28 miliar dan US8,93 miliar.

​Meskipun secara keseluruhan neraca perdagangan berada dalam posisi surplus, laporan BPS juga memberikan catatan terkait penurunan kinerja ekspor di beberapa negara mitra utama. Ekspor ke Jepang tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 17,91 persen atau setara US$3,07 miliar. Penurunan juga terjadi pada pasar India (turun 13,27 persen) dan Australia yang merosot hingga 24,51 persen.

​Penurunan ekspor ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, khususnya bahan bakar mineral yang nilai ekspornya secara umum menyusut lebih dari US$7 miliar sepanjang tahun ini. Namun, penurunan tersebut berhasil dikompensasi oleh lonjakan permintaan pada sektor lemak dan minyak hewani/nabati yang naik pesat sebesar 26,24 persen.

(Emn/Nusantaraterkini.co)