Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati mengungkapkan rasa prihatin atas peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Dia mengungkapkan, dari bulan Ramadan sampai dengan Syawal ini, kasus yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti itu terus meningkat dan sangat memprihatinkan.
Baca Juga : DBD di Sumsel Capai 1.426 Kasus per Mei 2026: Palembang Tertinggi, Tren Menurun
Dalam catatannya, per 15 April kemarin sudah menembus angka 62 ribu kasus dan yang meninggal dunia sudah 475 jiwa. Menurutnya, hal ini sudah menjadi angka yang warning dan menjadi peringatan layaknya lampu merah tua bagi para pemangku kepentingan
Baca Juga : Waspada Lonjakan DBD, Dinkes Sumsel Prediksi Puncak Kasus Terjadi Hingga Februari
"Ada beberapa provinsi yang menjadi perhatian karena dari angka 62 ribu ini penyumbang terbesarnya adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, kemudian Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan, bahkan beberapa angka meninggal ada di beberapa provinsi juga. Artinya, ini sudah menjadi perhatian yang harus segera dicarikan solusinya," katanya, Minggu (28/4/2024).
Politisi dari Fraksi PKS ini menyampaikan, bahwa DPR telah mengingatkan kepada pemerintah soal lonjakan kasus DBD, namun sayangnya peningkatan kasus tak terbendung.
Baca Juga : Kasus DBD Sumsel 2025 Tembus 4.130, Kota Palembang Catat Jumlah Tertinggi
"Kita sebenarnya sudah mengingatkan kepada Pemerintah kepada Kementerian Kesehatan agar benar-benar bisa mengantisipasi lonjakan angka DBD. Pada saat rapat kita yang terakhir di bulan Maret sebelum kita reses pada bulan Ramadan, angka DBD sudah sangat tinggi wabil khusus di DKI Jakarta," ungkapnya.
Baca Juga : Dinkes Sumsel Siapkan 5.000 Vaksin DBD Gratis untuk Anak di Palembang
Dia menjelaskan saat ini yang perlu dilakukan bersama adalah mencari solusi, bukan saling menyalahkan, dan menyelamatkan masyarakat dari potensi demam berdarah. Anggota Dewan dari Dapil DKI Jakarta II ini menekankan agar jangan sampai ada korban jiwa yang bertambah.
"Kalau (ditanya) penyebab, saya rasa kita tidak untuk saling menyalahkan hari ini. Apakah karena masyarakat yang belum begini, belum begitu. Kalau dikatakan masyarakat kurang perhatian atau aware berarti ini tanggung jawab pemerintah juga. Berarti kan gerakan masyarakat sehatnya masih harus ditingkatkan," jelasnya.
Baca Juga : Eka Widodo: Putusan MK Soal Kuota Caleg Perempuan Perkuat Demokrasi
Kasus DBD di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus DBD yang tercatat hingga minggu ke-16 tahun 2024, yakni mencapai 76.132 orang.
Baca Juga : Usulan Penerimaan LPDP Ikuti Latihan Militer, DPR: Kenapa Tidak jika Demi Negara
Angka ini mengalami peningkatan cukup tinggi setelah sebelumnya pada 26 Maret 2024 jumlah kasus mencapai 53.131 orang. Bukan hanya itu, berdasarkan keterangan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik dr Siti Nadia Tarmizi, angka kematian dari kasus DBD ini bahkan mencapai 540 orang.
(cw1/nusantaraterkini.co)
