Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang belum menunjukkan tanda mereda terus memberi tekanan pada pasar global. Dampaknya, sejumlah harga komoditas utama mengalami lonjakan signifikan, terutama minyak mentah dan logam.
Berdasarkan penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), harga minyak mencatat kenaikan tajam seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.
Minyak Mentah
Baca Juga : GREAT Institute: 'State-Driven Economy' Strategi Prabowo Atasi Ketimpangan dan Ketergantungan Global
Mengacu pada laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent naik USD 4,56 atau 4,2 persen menjadi USD 112,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD 5,16 atau 5,5 persen ke level USD 99,64 per barel.
Secara mingguan, Brent mencatat kenaikan sekitar 0,3 persen, sedangkan WTI menguat lebih dari 1 persen. Kenaikan ini mencerminkan pesimisme pasar terhadap peluang gencatan senjata dalam konflik yang telah berlangsung selama sebulan.
Batu Bara
Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah
Harga batu bara global juga ikut menguat. Berdasarkan data perdagangan ICE Newcastle, kontrak April 2026 naik 1,3 persen ke posisi USD 143,85 per ton.
Minyak Sawit (CPO)
Komoditas minyak nabati turut terdorong naik. Harga crude palm oil (CPO) di Malaysia tercatat menguat sekitar 1,14 persen ke level MYR 4.620 per ton pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
Nikel
Berbeda dengan komoditas lain, harga nikel justru mengalami pelemahan. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), nikel turun tipis 0,36 persen menjadi USD 17.186 per ton.
Timah
Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini 6 Juni 2026, Anjlok Rp32 Ribu ke Rp2.738.000 per Gram
Sementara itu, harga timah mencatat kenaikan cukup signifikan. Data LME menunjukkan harga timah naik 3,77 persen dan ditutup di level USD 45.788 per ton.
Kenaikan sejumlah komoditas ini menunjukkan besarnya pengaruh konflik geopolitik terhadap pasar global, terutama pada sektor energi dan bahan baku industri.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : IHSG Anjlok 8,69% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp922 Triliun
