Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (19/12/2024) pukul 11.00 WIB kurs rupiah makin tak berdaya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) imbas keputusan Federal Reserve (The Fed) pangkas suku bunga acuan 25 bps.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, kurs rupiah melemah 1,16% ke level Rp 16.287 per dolar AS. Alhasil, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.
Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
Menanggapi hal tersebut, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan kurs rupiah melemah tajam pasca pertemuan FOMC yang memutuskan memangkas suku bunga sebesar 25 bps ke level 4,25% - 4,50%, yang mana sesuai dengan ekspektasi pasar.
Lukman memproyeksi, kurs rupiah berpotensi di tutup dalam level Rp 16.300 per dolar AS pada akhir sesi perdagangan hari ini. Terakhir rupiah tembus ke Rp 16.300 per dolar AS pada 30 Juli 2024.
Baca Juga : DPR Ingatkan Lonjakan Dolar AS Ancam Ketahanan Pangan, Minta Pemerintah Kurangi Ketergantungan Impor
Di sisi lain Ketua The Fed Jerome Powell memberikan pernyataan yang sangat hawkish terkait prospek suku bunga tahun depan.
BACA:Kurs Rupiah Rontok 0,19% Berada di Rp16.050 Per Dolar AS di Perdagangan Selasa (17/12/2024) Sore Ini
Powell mengisyaratkan untuk pemangkasan suku bunga hanya sebesar 50 bps pada 2025, turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 75-100 bps.
Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru
"The Fed juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari 2% menajdi 2,5%," katanya.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 17-18 Desember 2024.
Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global
Pun, suku bunga deposit facility juga dipertahankan di level 5,25%, dan suku bunga lending facility tetap di angka 6,75%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan moneter untuk menjaga inflasi sesuai target 2,5% plus minus 1% pada tahun 2024 dan 2025.
Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Daya Tarik Dolar AS Sebagai Lindung Nilai Melemah
Melihat kondisi ini, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi meramal arah rupiah berpotensi besar depresiasi menuju Rp 16.500 pada akhir tahun 2024.
