Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Lonjakan Tarif Listrik dan Emas Perhiasan Kerek Inflasi Sumatera Utara pada Februari 2026 ​

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coMEDAN – Provinsi Sumatera Utara mencatatkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,71 persen pada Februari 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menyentuh angka 111,66. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini didorong oleh lonjakan di sembilan kelompok pengeluaran, di mana komoditas energi dan gaya hidup menjadi faktor dominan yang menekan daya beli masyarakat di wilayah ini.

​Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra, Selasa (3/3/2026), menjelaskan, tarif listrik menjadi komoditas utama yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar, yakni mencapai 1,76 persen. Selain kebutuhan dasar energi, kenaikan harga emas perhiasan juga memberikan sumbangan besar terhadap inflasi sebesar 0,98 persen. Disusul oleh komoditas pangan pokok seperti daging ayam ras dengan andil 0,43 persen dan beras sebesar 0,29 persen. 

Baca Juga : Sektor Industri dan Lemak Nabati Perkuat Ekspor Sumatera Utara, Tembus US$1 Miliar di Awal Tahun 2026

"Tren kenaikan ini tercermin jelas pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi tahunan sangat tinggi sebesar 13,28 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 16,94 persen," papar Asim.

Baca Juga : Volume Angkutan BBM KAI Divre I Sumut Tembus 145 Ribu Ton pada Mei 2026

​Jika dibandingkan dengan kondisi bulan sebelumnya, kata dia, tekanan inflasi di Sumatera Utara cenderung mengalami peningkatan tipis secara bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,22 persen pada Februari 2026. Menariknya, terdapat pergeseran komoditas penyumbang inflasi utama antara Januari dan Februari. 

Pada skala bulanan di Februari ini, tomat menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,19 persen, diikuti oleh cabai merah sebesar 0,18 persen dan emas perhiasan sebesar 0,16 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tarif listrik mendominasi secara tahunan, fluktuasi harga bumbu-bumbuan dan emas menjadi penggerak utama dinamika harga dalam jangka pendek di awal tahun ini.

Baca Juga : Pemko Medan Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya

​Secara kewilayahan, Kota Gunungsitoli mencatatkan diri sebagai daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Sumatera Utara yang mencapai 7,75 persen. Sebaliknya, Kabupaten Karo menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tahunan terendah, yakni sebesar 3,67 persen. Meskipun secara bulanan Sumatera Utara mengalami inflasi, namun secara akumulatif sejak awal tahun atau year-to-date (y-to-d), provinsi ini masih mencatatkan deflasi sebesar 0,53 persen.

Baca Juga : Sumut Inflasi 4,35 Persen pada Mei 2026: Emas Perhiasan dan Tomat Jadi Pemicu Utama ​

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Baca Juga : BPS Sumut Catat Inflasi April 2026 Sebesar 2,92 Persen, Gunungsitoli Alami Kenaikan Tertinggi ​