Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Masyarakat Semakin Apatis Terhadap Pilkada, Pengamat Politik Ungkap Faktor Penyebabnya

Editor :  Fadli Tara
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ist/tangkapan layar
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, Medan – Fenomena tingginya angka golput dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kali ini mencerminkan semakin menguatnya rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap proses politik. 

Pengamat Politik sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Mujahiddin, S.Sos., M.S.P., dalam wawancara eksklusif dengan Nusantaraterkini.co, mengungkapkan dua faktor utama yang memengaruhi rendahnya partisipasi publik: ketidakpuasan terhadap proses politik dan dampak bencana alam.

Baca Juga : Sebut Putusan MK Soal Jakarta Selaras Undang-Undang, Pengamat: Anies Sejak Lama Paham Regulasi IKN

Baca Juga : Bagindo Togar Sebut Drainase Palembang Paling Buruk dan Tata Ruang Semrawut

Menurut Mujahiddin, ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pilkada semakin terasa, apalagi setelah Pilpres yang baru saja berlangsung. 

“Masyarakat semakin merasa kecewa karena tidak melihat adanya perubahan signifikan dalam politik kita. Selain itu, bencana alam yang melanda sejumlah wilayah, seperti banjir di Medan, Deliserdang, dan Binjai, serta beberapa titik longsor, makin memperburuk keadaan, membuat semangat masyarakat untuk terlibat dalam pilkada semakin luntur,” jelasnya dengan nada serius kepada Nusantaraterkini.co, Jumat (6/12/2024).

Baca Juga : Pakar Nilai Sanksi Blacklist Lebih Efektif Tekan Politik Uang

Lebih lanjut, Mujahiddin juga menyayangkan fenomena yang terjadi setelah hasil quick count Pilkada keluar. 

Baca Juga : Pilkada Tak Langsung Dinilai Curi Kedaulatan Rakyat, Alarm Bahaya bagi Partai Penguasa

Masyarakat, menurutnya, menjadi enggan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena sudah tahu hasilnya.

 “Masyarakat sudah tahu hasilnya, dan tentu mereka malas untuk datang ke TPS. Ini sudah menjadi siklus politik yang terus berulang. Elit politik yang terpecah, ditambah polarisasi yang semakin tajam, membuat masyarakat merasa bahwa tidak ada pasangan calon yang benar-benar mewakili kepentingan mereka,” tambahnya.

Baca Juga : Raih Kemenangan, Pelatih Malaysia Sebut Timnya Masih Banyak Kelemahan

Angka golput yang semakin tinggi, menurut Mujahiddin, mencerminkan sikap apatis masyarakat yang merasa politik tidak lagi relevan dengan kehidupan mereka. 

Baca Juga : 2 Tahun Buron, Polisi Ringkus Pembunuh Pria di OKU Selatan 

“Dengan nilai angka golput yang tinggi, berarti masyarakat sudah apatis, apriori, yang artinya sudah masa bodoh dengan situasi saat ini. Mungkin politik yang ada saat ini sudah tidak mempresentasikan mereka,” tegasnya.

Ketidakpercayaan terhadap sistem politik, ditambah dengan ketidakmampuan politikus untuk menawarkan solusi yang nyata bagi masyarakat, membuat harapan publik untuk perubahan semakin redup. 

Dengan situasi ini, Mujahiddin berharap agar pemimpin yang terpilih nantinya dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan memperbaiki wajah politik yang selama ini dianggap tidak sehat. 

(CW9/Nusantaraterkini.co)