Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Membedah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Gorontalo Perspektif Psikologi

Editor :  Rozie Winata
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Direktur Minauli Consulting Irna Minauli saat menjadi narasumber di podcast Nusantaraterkini.co, Sabtu (6/10/2024). (Foto: M Fadli Taradifa/Nusantaraterkini.co)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli menyoroti bahwa kasus kekerasan anak yang melibatkan murid dan guru di Gorontalo.

Menurutnya, kasus ini bukanlah sesuatu yang terisolasi, melainkan bagian dari fenomena yang lebih luas, di mana anak-anak, terutama yang kurang beruntung seperti anak-anak yatim piatu, menjadi target predator.

Baca Juga : Sebanyak 1.975 Perempuan dan Anak di Sumut Menjadi Korban Kekerasan

Irna menjelaskan, bahwa dalam fase perkembangan sosial anak, terdapat kecenderungan untuk mencari cinta dan dukungan. 

Baca Juga : Kekerasan di Lembaga Pendidikan Meningkat, Rieke Dorong Perpres Perlindungan Peserta Didik

"Anak-anak yang tidak memiliki figur ayah atau sosok yang memberi perhatian seringkali lebih rentan. Membangun kepercayaan dari korban adalah langkah awal, di mana predator akan mendengarkan kebutuhan emosional anak dan memberikan perhatian yang membuat anak merasa istimewa. Namun, ini bisa menjadi jebakan yang membahayakan," ujarnya saat Podcas di Kantor Nusantaraterkini.co, Sabtu (5/10/2024).

Dalam konteks lingkungan sekolah, Irna menyoroti pentingnya kesadaran di antara para guru dan staf pendidikan. 

Baca Juga : Panic Attack Semakin Marak di Kalangan Gen Z, Apa Penyebabnya?

“Sekolah, terutama di sekolah-sekolah Islam yang lebih tradisional, memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung. Namun, terkadang ada ketidaktahuan tentang bagaimana mengidentifikasi dan menangani masalah ini. Masyarakat perlu dilibatkan dalam menciptakan suasana di mana anak-anak merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman mereka,” jelasnya.

Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Manipulatif Agar Tidak Menjadi Korban, Ini Penjelasan Pakar

Karena itu pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar sangat ditekankan oleh Irna. Banyak anak yang mengalami isolasi akibat status sosial mereka, dan hal ini membuat mereka lebih bergantung pada predator yang mengajarkan bahwa situasi tersebut adalah hal yang biasa. 

“Pendidikan dan pelatihan untuk orang tua, guru, dan masyarakat adalah langkah krusial dalam mencegah kasus kekerasan ini. Keterlibatan aktif dari semua pihak dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak,” katanya.

Baca Juga : Peringatan Hardiknas, Rico Waas Tegaskan Komitmen Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Merata

Irna juga menerangkan perbedaan antara pedofilia dan hebephilia, di mana pedofilia merujuk pada ketertarikan seksual terhadap anak di bawah usia 11 tahun, sementara hebephilia mencakup remaja berusia 15 hingga 18 tahun. 

Baca Juga : Peringatan Hardiknas 2026, Cerita Guru dan Siswa Menghadapi Perubahan Zaman

"Kedua kondisi ini berkaitan dengan gangguan jiwa yang berbeda. Penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan ini agar bisa lebih waspada terhadap tanda-tanda dan gejala yang mungkin muncul di sekitar mereka," tambahnya.

Kekerasan terhadap anak tidak hanya dialami oleh generasi Z, tetapi juga oleh generasi sebelumnya, meskipun sering kali tidak dipublikasikan. 

“Kami sering melihat bahwa isu ini menjadi tabuh untuk dibicarakan. Banyak korban merasa malu atau takut untuk berbicara, sehingga kasus-kasus ini tetap tersembunyi,” kata Irna.

Untuk mengatasi permasalahan ini, ia menekankan pentingnya tindakan perlindungan dan peningkatan kesadaran sejak dini. Anak-anak perlu diajari batasan-batasan dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. 

"Memberikan hadiah kepada anak dalam budaya kita adalah hal yang biasa, tetapi anak juga harus bisa membedakan antara perhatian yang tulus dan yang memiliki motif tersembunyi. Pendidikan tentang nilai-nilai moral dan etika di rumah dan di sekolah sangat penting untuk membentuk karakter anak," ujarnya.

Dampak dari kekerasan tersebut sangat serius, menyebabkan anak kehilangan kepercayaan diri dan mengalami gangguan depresi. 

“Anak-anak yang menjadi korban sering kali merasa malu dan bersalah, yang dapat berujung pada perilaku menyakiti diri sendiri atau self-harm. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak berharga dan cenderung mengisolasi diri dari teman-teman,” terangnya.

Dalam hal pemulihan mental, prosesnya memerlukan waktu dan pendampingan psikologis yang tepat. 

"Anak yang mengalami trauma mungkin akan menghindari interaksi sosial dan cenderung mengganti pasangan dalam hubungan, yang merupakan dampak jangka panjang dari pengalaman traumatis. Mereka mungkin juga menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan ketidakstabilan emosional,” tuturnya.

Untuk membantu anak-anak pulih, Irna menyarankan agar mereka mendapatkan terapi yang sesuai, baik secara individu maupun kelompok. 

"Proses pemulihan bisa berbeda-beda bagi setiap anak. Beberapa mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk bisa beradaptasi kembali dengan lingkungan sosial mereka. Keluarga harus memberikan dukungan dan memahami bahwa proses ini tidak instan," tambahnya.

Irna menyebutkan bahwa self-harm, atau perilaku menyakiti diri sendiri, adalah salah satu cara anak-anak mengungkapkan perasaan mereka yang terpendam. 

"Trauma yang dialami dapat menimbulkan luka yang mendalam, dan menyebarkan pengalaman tersebut ke orang lain tanpa penanganan yang tepat dapat berakibat fatal. Penting untuk menciptakan ruang aman di mana anak-anak merasa nyaman untuk berbicara tentang perasaan mereka tanpa takut dihakimi,” ujarnya.

Dengan penekanan pada pentingnya kesadaran dan tindakan preventif, ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak-anak adalah tanggung jawab bersama yang harus diutamakan oleh semua pihak. Kesadaran akan isu-isu ini harus ditingkatkan, dan langkah-langkah konkret perlu diambil untuk mencegah kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah dan masyarakat.

“Peran orang tua, sekolah, dan masyarakat sangat penting dalam menjaga kesehatan mental anak-anak. Dukungan dan perhatian dari orang dewasa di sekitar mereka bisa menjadi penentu dalam proses penyembuhan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan dan memberikan perhatian yang mereka butuhkan,” pungkasnya.

(cw9/Nusantaraterkini.co)