Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 4 November 2025: Tertekan Sentimen Global

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan memperlihatkan uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibayangi tekanan eksternal pada perdagangan Selasa (4/11/2025). Pergerakan mata uang Garuda diperkirakan fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan tensi geopolitik global.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal.

“Rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.670–Rp16.730,” ujar Ibrahim dalam risetnya, Selasa (4/11/2025).

Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor

Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah 45 poin di level Rp16.676 per dolar AS.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah terjadi setelah Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu. Namun, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan “belum menjadi kepastian” membuat pelaku pasar kembali berhati-hati.

Baca Juga : Pasar Keuangan Lesu, Marwan Jafar: Investor Asing Tinggalkan RI karena Krisis Kepercayaan

Ketidakpastian itu mendorong penguatan indeks dolar AS ke posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, kebuntuan politik di Amerika Serikat yang menyebabkan penutupan sebagian pemerintahan selama lima pekan turut menambah kekhawatiran pasar. Penundaan sejumlah rilis data ekonomi penting meningkatkan risiko perlambatan ekonomi AS.

Situasi geopolitik juga menjadi sorotan. Serangan Ukraina ke pelabuhan minyak Rusia di Laut Hitam memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, sementara Rusia membalas dengan serangan ke wilayah Zaporizhzhia.

Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru

Sementara itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan pekan lalu membawa sedikit angin segar. Keduanya berkomitmen untuk mengurangi hambatan perdagangan, termasuk potensi pengurangan tarif impor dan peningkatan ekspor AS ke China. Meski demikian, perkembangan ini belum cukup kuat menahan volatilitas pasar keuangan global.

Faktor Domestik: PMI Manufaktur Menguat

Dari dalam negeri, sinyal positif datang dari indeks aktivitas manufaktur (PMI) Indonesia yang naik ke 51,2 pada Oktober 2025 dari 50,4 di bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandakan ekspansi sektor manufaktur selama tiga bulan berturut-turut.

Baca Juga : DPR Ingatkan Lonjakan Dolar AS Ancam Ketahanan Pangan, Minta Pemerintah Kurangi Ketergantungan Impor

Peningkatan terjadi pada produksi, pembelian bahan baku, dan permintaan tenaga kerja. Namun, biaya input mengalami lonjakan ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir, dipicu kenaikan harga bahan baku impor.

Banyak produsen memilih untuk tidak sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya ke konsumen demi menjaga daya saing, sehingga harga jual hanya naik terbatas. Sementara itu, sebagian pelaku industri memperbesar kapasitas untuk mengimbangi permintaan, meski persediaan barang jadi menurun tipis.

Kurs Dolar AS di Sejumlah Bank

Baca Juga : Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.974 per Dolar AS, Namun Dibayangi Tekanan Global

Berikut kurs transaksi dolar AS di beberapa bank utama pada Selasa (4/11/2025):

Bank Mandiri: Kurs jual Rp16.725 | Kurs beli Rp16.425

BCA: Kurs jual Rp16.873 | Kurs beli Rp16.573

Baca Juga : Rupiah Menguat ke Rp 16.988 per Dolar AS, Awali Perdagangan dengan Tren Positif

BNI: Kurs jual Rp16.805 | Kurs beli Rp16.555

Rupiah Dibuka Melemah di Pasar Spot

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 39 poin (0,23%) ke level Rp16.715 per dolar AS pada pukul 09.03 WIB.

Pelemahan ini sejalan dengan penguatan dolar AS secara global akibat meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

“Kinerja rupiah masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari arah kebijakan moneter AS dan volatilitas harga komoditas,” ujar Ibrahim.

(Dra/nusantaraterkini.co).