Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Nyesrek-Gampung Buruh Tani di Pemalang Berbagi Kebahagiaan saat Panen Padi

Editor :  hendra
Reporter :  RAGIL
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Nyesrek-Gampung Buruh Tani di Pemalang Berbagi Kebahagiaan saat Panen Padi. (Foto: Ragil/nusantaraterkini.co).
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, PEMALANG - Seorang buruh tani warga Desa Kebagusan, Kecamatan Ampelgading bernama Kasturi berjibaku mengais sisa padi yang tertinggal di tengah hamparan sawah yang menguning. 

Buruh tani berusia 65 tahun ini menyambut datangnya musim panen dengan penuh makna dan kebahagiaan. Mereka datang di lokasi panen untuk mencari sisa-sisa padi yang tidak terambil oleh pemilik lahan atau dikenal sebagai Nyesrek ada juga orang Pemalang menyebutnya Gampung.

Nyesrek atau Gampung secara harfiah berarti memungut sisa panen, dilakukan oleh buruh tani ketika atau setelah pemilik lahan memanen padi milik mereka. 

Baca Juga : Imigrasi Ungkap Sindikat Love Scamming di Semarang, Empat WN China dan 2 WNI Diamankan

Para buruh tani diizinkan untuk mengumpulkan sisa-sisa padi yang tertinggal di sawah. Kegiatan ini biasanya didominasi oleh buruh tani perempuan dari golongan ekonomi menengah kebawah.

Sebelum kedatangan mesin pemanen padi Kombat dan masih menggunakan Blower yaitu mesin manual untuk memisahkan gabah padi dari batangnya, Nyesrek masih bisa diandalkan untuk penghasilan para kaum buruh tani.

"Dulu saat pakai Blower Nyesrek dari pagi sampai sore bisa dapat 10 -15 kg gabah, itu juga tergantung luas sawahnya," tutur Kasturi, pada Senin (14/4/2025).

Baca Juga : Modus Dukun Gadungan, Lansia di Samosir Kehilangan Uang dan Emas Rp248 Juta, Pelaku Ternyata Teman Sendiri

Begitu juga Mbah Kuneng (70) buruh Nyesrek warga Temuireng, Kecamatan Petarukan mengeluhkan hal yang sama.

"Orang desa sini mengenal saya sebagai juaranya orang Nyesrek atau Gampung, tapi sekarang semenjak ada mesin Kombat, pendapatan dari mengais sisa gabah panen menurun, dulu sampai sore cari satu kantong besar isi sekitar 20-25 kg gabah bisa, sekarang sulit dapat 4 kg saja sudah capai campur wajahnya hitam kelam," tuturnya.

Dari sisi lain, pemilik lahan pertanian mengatakan dengan adanya buruh tani yang Nyesrek dianggap tidak merugikan dan sudah lumrah.

Baca Juga : Gempa Magnitudo 4.3 Guncang Bener Meriah, Getaran Terasa hingga Takengon

Meskipun hasilnya tidak sebanyak panen utama, kegiatan ini sangat dinanti-nanti karena memberikan tambahan penghasilan dan membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Kali ini para buruh tani yang menyesrek terlihat di Petak sawah seluas 5 hektare yang terletak di Desa Kebagusan, Kecamatan Ampelgading.

Sinah (75), salah satu buruh tani yang telah lama berkecimpung di pekerjaan mengais sisa ini selama puluhan tahun menggambarkan Nyesrek sebagai momen yang sangat berharga. 

Baca Juga : Polisi Gagalkan Aksi Tawuran Dini Hari di Medan Tembung, Empat Pemuda Diamankan

“Nyesrek atau Gampung adalah waktu dimana saya bisa mengais sisa-sisa gabah yang tertinggal. Meskipun hanya mendapatkan sedikit, tetapi ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.

Ketika musim panen padi tiba, Sinah bisa mengumpulkan gabah hingga cukup untuk makan satu bulan bahkan bisa sampai dijual.

“Sekali berangkat ini saja kadang bisa mengumpulkan hingga 5 Kg,” tambahnya.

Baca Juga : Makan Telur Setiap Hari, Aman atau Berisiko? Simak Manfaat, Efek Samping, dan Batas Konsumsi Ideal

Suasana kebersamaan terasa kental, di mana mereka saling bercanda dan membantu satu sama lain. Tidak jarang, Nyesrek juga menjadi ajang untuk saling bertukar cerita dan pengalaman selama bekerja di sawah.

“Ketika sudah terkumpul banyak, kemudian saya jual atau saya olah masak sendiri,” ungkapnya.

“Ya. Anggap saja berbagi kebahagiaan dengan sesama petani. Biar mereka juga merasakan hasil dari panen ini meskipun tidak seberapa,” kata Redjo pemilik sawah 

Baca Juga : Jaga Stabilitas Harga, Bulog Sumsel Babel Optimalkan Penyaluran Beras SPHP

Nyesrek, dengan segala kesederhanaan dan keunikannya, merupakan cerminan dari kekayaan budaya Pemalang yang patut dihargai. Di balik setiap butir padi yang dipungut, tersimpan cerita tentang kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur yang tulus dari para buruh tani.

(Ragil/nusantaraterkini.co)