Nusantaraterkini.co, MEDAN – Persiapan keberangkatan jemaah haji tahun 2026 dipastikan telah berjalan secara maksimal dengan mengedepankan sistem pelayanan terpadu satu pintu atau "one-stop service" yang berpusat di Gedung Aula Jabal Nur.
Kasubbag Humas Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Suci Ramadhani, S.Kom., M.S.I., menjelaskan bahwa melalui mekanisme ini, setiap jemaah yang baru tiba dari daerah asal langsung menjalani rangkaian prosedur efisien yang mencakup pemeriksaan kesehatan, pembagian uang saku (living cost), pemberian gelang identitas, hingga penyerahan Kartu Nusuk sebagai akses resmi memasuki tanah suci.
Hingga saat ini, proses pemberangkatan telah berjalan lancar dan memasuki kloter 13 yang berasal dari Labuhan Batu. Jadwal operasional keberangkatan sendiri telah dimulai sejak 21 April dan direncanakan berakhir pada kloter 17 pada tanggal 11 Mei mendatang.
Baca Juga : Penerbangan Delay, Kepulangan Jemaah Haji Kloter 2 Medan ke Tanah Air Tertunda
"Persiapan sudah maksimal karena saat ini sudah berjalan sampai kloter 13 yang sedang dalam perjalanan menuju ke sini," ungkap Suci Ramadhani saat memberikan keterangan terkait kesiapan teknis di asrama haji Medan, Rabu (6/5/2026).
Dia menjelaskan, kejelasan mengenai perlindungan bagi jemaah lanjut usia (lansia) menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan haji tahun ini. Suci menekankan adanya standar pelayanan yang sangat detail untuk menjamin kesehatan serta kenyamanan mereka (jemaah haji), termasuk penyediaan posko kesehatan khusus dan bantuan alat fisik seperti kursi roda atau tongkat bagi jemaah dengan kebutuhan khusus.
"Secara medis, kondisi vital jemaah seperti tekanan darah dipantau secara ketat; apabila ditemukan jemaah dengan kondisi kesehatan tidak stabil, petugas akan memberikan penanganan medis dan waktu istirahat tambahan hingga tim kesehatan mengeluarkan surat layak terbang," terangnya.
Baca Juga : Fase Kepulangan, 6.333 Jemaah Haji Bertolak ke Tanah Air
Selain dukungan medis, lanjut Suci, aspek konsumsi juga disesuaikan secara spesifik melalui penyediaan katering khusus lansia. Menu ini disiapkan dengan tekstur yang lebih lunak dan rasa yang tidak pedas dibandingkan menu jemaah reguler untuk menjaga kondisi fisik jemaah selama masa tunggu.
Di sisi lain, Suci juga memberikan klarifikasi terkait adanya perubahan jumlah total kloter tahun ini yang menyusut menjadi 17 kloter dari sebelumnya 25 kloter pada tahun lalu. Penurunan ini kata dia, disebabkan oleh adanya kebijakan pengurangan kuota dari pemerintah pusat yang berdampak secara nasional.
Meskipun terjadi pengurangan kuota, pihak kementerian memastikan bahwa setiap jemaah tetap mendapatkan pendampingan komprehensif dari petugas haji kloter, pembimbing ibadah, serta Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).
"Seluruh rangkaian proses ini merupakan hasil integrasi lintas sektoral yang melibatkan unsur kesehatan, Imigrasi, serta Bea Cukai guna memastikan keamanan dan kelancaran seluruh tahapan ibadah haji bagi para jemaah," tutupnya.
(Cw5/nusantaraterkini.co).
