Nusantaraterkini.co, TEHERAN-Harga minyak dunia kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (13/1/2026) seiring dengan meningkatnya suhu politik di Timur Tengah dan ketegangan global yang kian kompleks. Kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok dari Iran, salah satu produsen utama dalam organisasi OPEC, menjadi motor utama kenaikan harga.
Sentimen ini telah mendorong harga minyak mentah Brent naik 0,4 persen menjadi 64,15 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkerek ke level 59,78 Dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Baca Juga : Harga Minyak Eceran Melambung Tinggi di Padangsidimpuan, Masyarakat Wanti-wanti saat Beraktivitas
Eskalasi di Teheran mencapai titik kritis akibat unjuk rasa anti-pemerintah yang masif dan laporan mengenai kekerasan mematikan terhadap demonstran. Situasi ini memicu reaksi keras dari Washington, di mana Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer dan kebijakan tarif yang agresif.
“Negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen atas seluruh transaksi bisnis mereka dengan Amerika Serikat,” tegas Trump dalam pernyataannya yang mengguncang pasar global.
Ancaman ini tidak hanya menambah premi risiko geopolitik, tetapi juga menciptakan dilema bagi negara-negara importir minyak Iran yang kini harus berhadapan dengan konsekuensi proteksionisme ekonomi AS.
Di tengah ketegangan Iran, pasar energi juga tengah mengantisipasi potensi kembalinya pasokan minyak dari Venezuela. Pasca-pelengseran Nicolas Maduro, pemerintahan transisi di Caracas dilaporkan siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat guna mendapatkan dukungan internasional, meskipun sanksi Barat tetap membayangi.
"Pemerintah di Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS, dengan catatan tetap tunduk pada sanksi Barat," tulis laporan tersebut, mencerminkan adanya pergeseran peta pasokan energi di Amerika Latin yang kini diperebutkan oleh perusahaan perdagangan energi global.
Dilansir RMOL, ketidakpastian pasar semakin diperkeruh oleh serangan Rusia ke kota-kota besar di Ukraina serta kritik berulang pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve. Campur tangan politik terhadap independensi bank sentral AS ini memicu kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi global yang secara langsung dapat mempengaruhi prospek permintaan minyak jangka panjang.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy
Dengan Iran yang masih membara, Venezuela yang sedang bertransisi, dan konflik di Ukraina yang terus memanas, pasar minyak dunia kini berada dalam periode volatilitas tinggi di mana geopolitik menjadi penentu utama arah harga dibandingkan faktor fundamental permintaan tradisional.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
