Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pencegatan Konvoi Armada Kapal Bantuan ke Gaza oleh Israel Tuai Kecaman Negara Eropa

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kapal-kapal Global Sumud Flotilla (GSF) bersiap berlayar dari Pulau Syros, Yunani, pada 14 September 2025. (Foto: Xinhua/Marios Lolos)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, ROMA - Pencegatan armada internasional yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh Israel memicu kecaman di seluruh Eropa, dengan berbagai pemerintah mendesak Israel untuk memastikan keselamatan warga negara mereka di atas kapal-kapal yang menuju Gaza tersebut.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis (2/10/2025) bahwa Angkatan Laut Israel telah selesai mengambil alih konvoi kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang menuju Gaza.

GSF, yang terdiri dari sekitar 50 kapal yang membawa 500 lebih sukarelawan dari 40 lebih negara, bertujuan untuk menantang blokade laut Israel serta menyalurkan bantuan makanan dan medis kepada warga Palestina.

Semua kapal bantuan telah dicegat di Laut Mediterania, kecuali satu yang "masih berada jauh" dari Gaza.

Anggota parlemen Yunani mengecam keras pencegatan armada tersebut dan mendesak pemerintah untuk memastikan keselamatan warga negara Yunani di atas kapal, termasuk seorang anggota parlemen yang sedang menjabat.

Baca Juga : Israel Putar Pidato Netanyahu di PBB kepada Warga Gaza dengan Pengeras Suara dan Kendali Ponsel

Perwakilan dari PASOK, SYRIZA, Partai Komunis Yunani (KKE), Kiri Baru (New Left), dan Gerakan Kebebasan (Freedom Movement) mengkritik insiden tersebut dan menuntut penjelasan dari Israel, menurut lembaga penyiaran nasional ERT.

Pavlos Christidis dari PASOK-KINAL mengatakan penyitaan kapal di perairan internasional "menimbulkan pertanyaan serius tentang legalitas dan hak asasi manusia," menekankan bahwa hukum internasional harus diterapkan "tanpa pengecualian."

Nikos Karathanasopoulos dari KKE mengecam pencegatan itu sebagai "serangan bajak laut," menuduh Israel dan Uni Eropa (UE) gagal melindungi misi tersebut.

Juru bicara SYRIZA Christos Giannoulis menyoroti partisipasi anggota parlemen Yunani Peti Perka dalam armada tersebut, menyebut intersepsi itu sebagai "bencana kemanusiaan" dan mendesak Athena untuk meninggalkan "kebijakan menjaga jarak yang netral."

Menteri Luar Negeri Yunani George Gerapetritis mengatakan Yunani, bekerja sama dengan negara-negara lain, "akan melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan penuh bagi warga negara ini."

Baca Juga : Tegaskan Dukungan Solusi Dua Negara, Presiden Prabowo Ajak Dunia Akhiri Tragedi Gaza

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyuarakan kecaman "dengan cara yang paling keras" karena sejumlah warga negara Italia juga berada di kapal-kapal tersebut.

Italia dilanda beberapa demonstrasi terbesar. Pada Rabu (1/10/2025) malam waktu setempat, ribuan orang berunjuk rasa di Roma, Milan, Napoli, dan kota-kota lain setelah armada kapal ditahan, menduduki stasiun kereta dan melakukan aksi duduk di universitas.

Serikat pekerja menyerukan pemogokan umum, menyatakan serangan terhadap kapal-kapal sipil sebagai "serangan terhadap solidaritas kemanusiaan."

Menteri Luar Negeri Antonio Tajani mengonfirmasi sekitar 40 warga Italia ditahan, mengatakan tindakan Israel telah "jauh melampaui" pembelaan diri yang sah.

Otoritas Portugal mengonfirmasi bahwa tiga warga negaranya, termasuk seorang anggota parlemen, telah ditahan. Tokoh politik Portugal menyuarakan reaksi keras pada Kamis atas penahanan ketiga warga negara tersebut oleh Israel, menyerukan agar mereka dipulangkan dengan selamat dan mengecam keras tindakan Israel. Pemimpin Blok Kiri, Marisa Matias, menyebut penahanan itu "ilegal."

Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa berjanji untuk memberikan "dukungan konsuler penuh" melalui kedutaan besar di Tel Aviv guna memastikan hak-hak mereka dan kepulangan mereka dengan aman.

Di Jerman, para pejabat mengatakan mereka telah menghubungi Israel untuk memastikan keselamatan para penumpang. Ribuan orang berunjuk rasa di Berlin pada Sabtu (27/9/2025).

Baca Juga : Ribuan Warga Sipil di Gaza Mengungsi dengan Segala Cara dari Serangan Israel

Prancis juga menyatakan keprihatinannya, mendesak Israel untuk memastikan keselamatan warga negaranya, menjamin hak mereka atas perlindungan konsuler, dan mengizinkan mereka untuk segera dipulangkan.

Belanda melaporkan enam warga negaranya ditahan. Kementerian Luar Negeri Belanda menyerukan perlindungan mereka sementara para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Den Haag.

Kementerian Luar Negeri Inggris mengonfirmasi kontak dengan keluarga warga negara mereka yang berada di kapal dan mengatakan pihaknya berharap Israel dapat menyelesaikan masalah ini dengan aman.

Pada Rabu larut malam, pihak armada konvoi tersebut mengecam "agresi aktif" militer Israel di Telegram, menyatakan bahwa kapal Florida "sengaja ditabrak di laut," sementara Yulara, Meteque, dan kapal-kapal lainnya terkena tembakan meriam air.

Meskipun semua awak kapal tidak terluka, "serangan ilegal terhadap kapal-kapal kemanusiaan tak bersenjata ini merupakan kejahatan perang," katanya.

Konflik terbaru Israel-Palestina telah berlangsung selama hampir dua tahun, merenggut lebih dari 65.000 nyawa di Gaza, hampir separuhnya adalah perempuan dan anak-anak, sementara 2 juta jiwa lainnya terjebak dalam bencana kemanusiaan.

(zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber Xinhua