Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perkuat Ekonomi Hijau dan Biru, Sumut Kolaborasi dengan Konservasi Cakrawala Indonesia

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution saat menerima audiensi Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Sudirman Nomor 41, Medan, Jumat (24/4/2026).(foto: diskominfo sumut)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coMEDAN-Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia (YCKI) untuk memperkuat pengembangan ekonomi hijau dan biru. Langkah ini diharapkan mampu mendorong kebangkitan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

 

Pengembangan ekonomi hijau dan biru merupakan bagian dari program prioritas Bobby Nasution, tepatnya pada poin keenam. Ekonomi hijau berfokus pada energi terbarukan, industri berkelanjutan, serta teknologi ramah lingkungan. Sementara itu, ekonomi biru menitikberatkan pada optimalisasi sektor kelautan dan perikanan, termasuk konservasi laut serta pemanfaatan sumber daya air secara bijak.

Baca Juga : Volume Angkutan BBM KAI Divre I Sumut Tembus 145 Ribu Ton pada Mei 2026

 

“Tujuan yang kita lakukan sangat baik, bukan hanya untuk Sumut, tetapi juga secara nasional dan internasional, bukan hanya lingkungan sekitar tetapi juga alam semesta,” kata Bobby Nasution saat menerima audiensi Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Sudirman Nomor 41, Medan, Jumat (24/4/2026).

 

Baca Juga : Pemko Medan Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya

Menurut Bobby, tantangan utama saat ini adalah menjaga keberlangsungan makhluk hidup di tengah upaya pemanfaatan sumber daya alam untuk nilai ekonomi. Ia menegaskan, aktivitas ekonomi harus tetap menjamin kelestarian lingkungan.

 

“Masih banyak masyarakat kita yang mengandalkan hutan untuk kelangsungan hidup, sementara pemerintah tetap harus memikirkan manfaat ekonominya, tetapi tidak merugikan makhluk hidup lainnya, entah itu tumbuhan, hewan dan juga manusia, ketika terganggu di situlah pemerintah hadir,” ujarnya.

Baca Juga : AMPI Undang Gubernur Sumut Bobby Nasution Hadiri Pelantikan Pengurus Periode 2026–2031

 

Wakil Presiden Program YCKI, Fitri Hasibuan, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000 pihaknya telah membantu para pemerhati lingkungan dalam pembentukan Taman Nasional Batang Gadis. Selain itu, YCKI juga mendampingi sekitar 800 petani sawit untuk memperoleh sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebagai bukti penerapan praktik sawit berkelanjutan yang ramah lingkungan.

 

Baca Juga : Pemprov Sumut Gandeng RS Mata Cicendo Tingkatkan SDM dan Layanan Kesehatan Mata

“Tahun depan kita akan berupaya membantu 2.000 petani untuk mendapatkan RSPO, kemudian kita juga telah melakukan pemulihan ekosistem 500 hektare, tahun ini kami targetkan 1.000 hektare terutama di kawasan yang terganggu bencana,” kata Fitri Hasibuan.

 

Pertemuan tersebut turut dihadiri Senior Director Sustainable Palm Oil at Conservation International, Melissa Thomas, jajaran YCKI, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumut Heri Wahyudi Marpaung, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta para pemerhati lingkungan. 

Baca Juga : Herman Deru Harap Pembangunan Tanjung Carat jadi Solusi Atasi Kemacetan di Palembang

(Emn/Nusantaraterkini.co)