Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perkuat Mitigasi Karhutla 2026, Pemkab OKI Terima Bantuan Alat Pemadam Rp1,55 Miliar

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Adetia Purwaningsih
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pemkab OKI saat menerima bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). (Foto: Pemkab Muba)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menerima bantuan sarana prasarana pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) senilai Rp1,55 miliar dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) guna memperkuat mitigasi menghadapi potensi kekeringan panjang pada tahun 2026.

Peralatan yang diterima terdiri dari ratusan unit alat pemadam, mulai dari mesin pompa apung, pompa punggung, selang, hingga peralatan manual yang akan segera didistribusikan ke berbagai titik rawan kebakaran di wilayah Bumi Bende Seguguk.

Baca Juga : Tanah Mineral Dominasi Kebakaran Lahan di Sumsel Awal Tahun 2026

“Bantuan ini sangat penting untuk mempercepat respons awal di lapangan. Kami akan memastikan sarana ini dimanfaatkan secara optimal oleh petugas, sekaligus memperkuat upaya pencegahan agar kejadian karhutla dapat ditekan semaksimal mungkin,” ujar Wakil Bupati OKI, Supriyanto dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga : Gaji Ke-13 ASN OKI Cair Hari Ini, Bupati Imbau Dahulukan Keperluan Sekolah Anak

Pemberian bantuan ini menjadi krusial mengingat prediksi cuaca tahun 2026 menunjukkan risiko kekeringan yang datang lebih awal.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, kondisi tersebut meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga diperlukan kesiapsiagaan peralatan serta sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, BNPB, dan BMKG.

Berdasarkan data kementerian, luas karhutla di Indonesia hingga Maret 2026 telah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Oleh karena itu, selain bantuan alat, pemerintah terus mendorong kolaborasi aktif dari elemen masyarakat untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar demi menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah bencana asap.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian karhutla,” ucap dia.

(Tia/Nusantaraterkini.co)