Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Prof Didik J Rachbini: Perkuat Perdagangan, Jangan Meninggalkan Jepang

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Rektor Universitas Paramadina sekaligus Ekonom INDEF Prof Didik J Rachbini PhD menegaskan pentingnya penguatan hubungan perdagangan Indonesia dengan Jepang di tengah dinamika global yang semakin kompetitif, Senin (30/3/2026).(foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coJAKARTA-Rektor Universitas Paramadina sekaligus Ekonom INDEF Prof Didik J Rachbini PhD menegaskan pentingnya penguatan hubungan perdagangan Indonesia dengan Jepang di tengah dinamika global yang semakin kompetitif. Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperdalam kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Dalam pandangannya, hubungan dagang Indonesia dengan Jepang memiliki karakter komplementer yang kuat, berbeda dengan hubungan dagang Indonesia dengan China yang cenderung bersifat substitutif dan kompetitif.

Baca Juga : Universitas Paramadina Bahas Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?

“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win, di mana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing," ujarnya, Senin (30/3/2026).

Baca Juga : The Lead Institute Paramadina Kaji Peran Filsafat dalam Mewujudkan Keadilan Sosial Ekonomi

Ia menjelaskan bahwa struktur perdagangan tersebut memungkinkan kedua negara saling mengisi kebutuhan, di mana Indonesia mengekspor sumber daya alam dan Jepang memasok teknologi serta investasi industri. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa hubungan dagang dengan China memiliki tantangan serius bagi industri dalam negeri. 

“Sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Hal ini menyebabkan tekanan besar terhadap sektor manufaktur nasional," lanjutnya.

Baca Juga : Disnaker Kota Medan Fasilitasi 1.017 Warga Bekerja ke Luar Negeri Periode Januari-Mei 2026

Lebih lanjut, Prof Didik mengungkapkan, deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini. Mondisi tersebut, sebutnya, turut memicu defisit neraca perdagangan manufaktur serta melemahkan posisi UMKM.

Baca Juga : Kemnaker Gandeng Prefektur Miyazaki, Perluas Peluang Penempatan Magang Teknis ke Jepang

Dalam analisisnya, meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang relatif rendah, skala ekonominya tetap sangat besar dan strategis. Oleh karena itu, ia menilai kunjungan presiden tidak boleh sekadar bersifat simbolik.

“Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo Tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan," ujarnya.

Baca Juga : GREAT Institute: 'State-Driven Economy' Strategi Prabowo Atasi Ketimpangan dan Ketergantungan Global

Prof Didik juga menekankan pentingnya tindak lanjut konkret pascakunjungan. Ia menyebut bahwa pemerintah perlu merancang strategi promosi kerja sama yang lebih terarah untuk memperkuat integrasi Indonesia dalam rantai pasok global.

Baca Juga : Kasus Korupsi BGN, Pakar: Bisa Jadi Pintu Masuk Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis

Ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa kerja sama dengan Jepang berpotensi mendorong transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan sektor manufaktur seperti otomotif dan elektronik. Jepang, kata dia, mengimpor energi, batubara, LNG, serta produk pertanian dan perikanan dari Indonesia, sementara Indonesia memperoleh mesin, teknologi tinggi, dan investasi industri dari Jepang.

(Emn/Nusantaraterkini.co)