Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rendemen Turun Akibat Curah Hujan, Harga Tebu di Rembang Anjlok

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi petani memanen tebu. (Foto: dok istockphoto)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, REMBANG - Petani tebu di Kabupaten Rembang mengeluh karena dalam satu bulan terakhir harga tebu turun secara signifikan.

Tercatat, pada akhir Juni lalu, harga tebu masih berkisar Rp870.000 per ton, namun per hari Minggu (3/8/2025) harganya anjlok menjadi Rp810.000 per ton.

Penurunan harga tebu ini terjadi secara bertahap dari harga semula Rp870.000/ton menjadi Rp850.000/ton. Kemudian kembali turun menjadi Rp820.000/ton dan turun lagi menjadi Rp810.000/ton.

Baca Juga : Trump Klaim Coca Cola Setuju Kembali Gunakan Gula Tebu Asli

Sejumlah petani tebu menuturkan, beberapa waktu lalu mereka sudah mendapat pemberitahuan dari Pabrik Gula (PG) Trangkil Pati terkait turunnya harga tebu.

Namun, dalam pemberitahuan tidak disebutkan besarnya penurunan harga.

"Alasan klasik turunnya harga tebu adalah rendemen atau kandungan gula menurun. Ini disebabkan pada saat menjelang tebang, masih sering turun hujan," tutur seorang petani tebu di Kecamatan Rembang Kota dikutip dari RMOL, Senin (4/8/2025).

Baca Juga : Kunjungi Pabrik Gula Kwala Madu Langkat, Zulkifli Hasan : Varietas Tebu Diperbaiki, Sudah Usang

Petani lain mengungkapkan, pada saat harga tebu mencapai Rp870.000, petani masih mendapat untung. Tetapi jika harganya Rp810.000/ton seperti sekarang, petani akan mengalami kerugian.

"Upah tenaga tebang dan biaya angkut naik," tutur H Tugiran, seorang petani tebu asal Rembang Kota.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Rembang, Utomo membenarkan kondisi yang terjadi ini. Menurutnya, jika harga tebu turun sampai Rp810.000/ton, petani jelas merugi.

"Alasannya rata-rata rendemen turun," terang Utomo.

(*/Nusantaraterkini.co)