Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pemulihan pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026). Setelah beberapa hari berada dalam tekanan, mata uang Garuda akhirnya mampu berbalik menguat tipis.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp16.882 per dolar AS, naik 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.892. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditetapkan di level Rp16.911 per dolar AS.
Sentimen Global Beri Angin Segar
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah dipicu membaiknya sentimen global. Pernyataan dari Iran yang memberi sinyal kesiapan kembali ke meja perundingan dinilai meredakan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.
Meredanya ketegangan geopolitik membuat pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Di sisi lain, intervensi dan langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter turut membantu menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.
Risiko Tetap Mengintai
Meski menguat, ruang apresiasi rupiah dinilai masih terbatas. Revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi sentimen yang perlu diwaspadai pelaku pasar.
Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama
Mata Uang Asia Kompak Menguat
Penguatan rupiah juga sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak positif terhadap dolar AS.
Peso Filipina naik 0,26%
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Pasar Dibayangi Konflik Iran-AS
Yen Jepang menguat 0,19%
Ringgit Malaysia dan Yuan China masing-masing naik 0,14%
Baht Thailand bertambah 0,05%
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Diproyeksi Masih Tertekan, Bergerak di Kisaran Rp17.600–Rp17.700 per Dolar AS
Namun, tekanan masih terlihat pada won Korea Selatan dan dolar Singapura yang belum mampu keluar dari zona negatif.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 98,80, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi sebelumnya di 98,76. Dolar yang masih relatif kuat berpotensi membatasi penguatan lanjutan mata uang Asia.
(Dra/nusantaraterkini.co).
