Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (3/2/2026) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS, seiring tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pagi hari tercatat melemah 12,50 poin atau 0,07% ke level Rp16.798 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,14% ke posisi 97,12, menandakan penguatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap mayoritas mata uang global.
Pergerakan mata uang Asia sendiri menunjukkan arah yang beragam. Yen Jepang tercatat melemah 0,10%, disusul won Korea Selatan yang terdepresiasi cukup dalam sebesar 0,98%. Sementara itu, rupee India dan yuan China justru menguat masing-masing 0,49% dan 0,06% terhadap dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Diproyeksi Masih Tertekan, Bergerak di Kisaran Rp17.600–Rp17.700 per Dolar AS
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal global serta rilis data inflasi domestik yang kembali meningkat.
Menurut Ibrahim, pasar juga menyoroti rencana penunjukan Kevin Warsh yang dikenal kritis terhadap kebijakan pembelian aset bank sentral. Meski Warsh dinilai sejalan dengan keinginan Donald Trump terkait pemangkasan suku bunga agresif, kebijakan moneter jangka panjang diperkirakan tidak akan terlalu longgar.
“Warsh kemungkinan akan menyoroti kondisi pasar tenaga kerja sebagai risiko utama. Jika dikonfirmasi, ia berpotensi mendukung penurunan suku bunga lanjutan setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Di sisi geopolitik, sentimen pasar sedikit terbantu oleh sinyal de-eskalasi setelah Donald Trump menyatakan Iran mulai menunjukkan keseriusan untuk membuka jalur negosiasi. Dari kawasan Asia, volatilitas Yen Jepang masih berlanjut usai pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menilai pelemahan mata uang memiliki dampak positif bagi kinerja ekspor.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 membukukan surplus kumulatif US$41,05 miliar, meningkat signifikan dibandingkan surplus 2024 sebesar US$31,04 miliar.
Namun demikian, perhatian pasar juga tertuju pada data inflasi Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,55% secara tahunan (yoy). Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar dengan andil inflasi mencapai 11,93%.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Pasar Dibayangi Konflik Iran-AS
“Inflasi tahunan yang relatif tinggi ini dipengaruhi efek basis rendah tahun lalu, khususnya terkait penyesuaian tarif listrik. Sementara secara bulanan, Januari 2026 justru mencatat deflasi sebesar 0,15%,” pungkas Ibrahim.
(Dra/nusantaraterkini.co).
