Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Hari Ini Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.500

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). 

Mata uang Garuda bahkan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS di tengah penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.

Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.18 WIB, rupiah di pasar spot melemah 88 poin atau sekitar 0,51 persen ke posisi Rp17.502 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sebelumnya sudah membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar

Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang tercatat turun 0,23 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, won Korea Selatan anjlok 0,84 persen, peso Filipina turun 0,48 persen, serta rupee India melemah 0,47 persen terhadap dolar AS.

Selain itu, ringgit Malaysia ikut terkoreksi 0,20 persen dan baht Thailand melemah 0,24 persen. Sementara yuan China menjadi salah satu mata uang yang masih mampu menguat tipis sebesar 0,02 persen.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah hari ini masih akan dibayangi volatilitas pasar global. Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif namun tetap berada dalam tekanan pelemahan.

Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Tembus Rp17.896 per Dolar AS di Tengah Pergerakan Beragam Mata Uang Asia

Ia memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini.

Pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya permintaan dolar AS di pasar internasional serta sentimen kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

(Dra/nusantaraterkini.co)

Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah