Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertahan di level tinggi pada perdagangan Jumat (24/4/2026), seiring tekanan eksternal yang dipicu lonjakan harga minyak dunia.
Di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah tercatat berada di posisi Rp17.313 per dolar AS pada pagi hari. Pergerakan ini relatif stagnan setelah sehari sebelumnya melemah sekitar 0,4 persen.
Mengacu pada laporan Bloomberg, pergerakan rupiah di awal perdagangan hanya berubah tipis sekitar 0,01 persen. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil yang melonjak 1,13 persen ke level US$106,26 per barel.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Kenaikan harga energi tersebut turut mendorong penguatan indeks dolar AS ke kisaran 98,8. Dampaknya, mayoritas mata uang Asia mengalami pelemahan. Won Korea Selatan tercatat turun 0,28 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,14 persen dan baht Thailand 0,1 persen. Sementara itu, dolar Singapura dan yen Jepang hanya menguat terbatas.
Dalam sepekan ke depan, dinamika ekonomi kawasan Asia diperkirakan masih diliputi ketidakpastian. Tekanan inflasi yang meningkat membuat otoritas moneter di berbagai negara harus bersikap hati-hati. Bank sentral Jepang diprediksi belum akan mengubah kebijakan suku bunga, sedangkan China menghadapi perlambatan sektor manufaktur meskipun kinerja ekspor masih relatif kuat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah perlambatan ekonomi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,7 persen hingga 5,7 persen, dengan target inflasi 1,5–3,5 persen.
Untuk meredam gejolak pasar, BI juga menegaskan akan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter, termasuk intervensi di pasar NDF offshore, pasar spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, pemanfaatan transaksi valas berbasis yuan offshore juga diperluas guna memperkuat stabilitas nilai tukar melalui mekanisme mata uang lokal.
Sementara itu, di sektor perbankan domestik, kurs jual rupiah di sejumlah bank besar telah menembus kisaran Rp17.400 hingga Rp17.500 per dolar AS pada Kamis (23/4). Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya tekanan global terhadap mata uang Garuda.
Pergerakan rupiah di pasar offshore yang masih bertahan di level Rp17.300-an menunjukkan bahwa sentimen eksternal, terutama dari harga komoditas dan penguatan dolar AS, masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah nilai tukar dalam jangka pendek.
Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
(Dra/nusantaraterkini.co).
