Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan terbatas pada perdagangan Selasa pagi (28/4/2026). Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah tercatat stagnan di level Rp17.321 per dolar Amerika Serikat.
Pergerakan yang cenderung datar ini terjadi di tengah pelemahan tipis Indeks Dolar AS yang turun 0,03 persen ke posisi 98,46. Pelaku pasar global masih menahan posisi sembari mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, membatalkan agenda diplomatik penting menyusul sinyal penolakan dialog dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Saat ini, Washington dikabarkan tengah mengkaji proposal dari Teheran terkait upaya penghentian konflik yang telah berlangsung selama delapan pekan. Iran menawarkan pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz dengan syarat penghentian blokade pelabuhan oleh AS, sementara isu nuklir akan dibahas pada tahap lanjutan.
Namun, dinamika kawasan semakin kompleks dengan sikap Israel yang disebut lebih mendukung kelanjutan tekanan terhadap Iran, sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik di masa depan.
Ketidakpastian ini turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Minyak mentah acuan Brent Crude Oil bertahan di kisaran US$108 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang relatif bervariasi. Won Korea Selatan dan dolar Singapura mencatat penguatan, sementara baht Thailand melemah 0,19 persen dan ringgit Malaysia turun tipis 0,03 persen.
Sementara itu, rupiah masih minim katalis domestik setelah sebelumnya sempat menguat seiring dorongan dari penguatan yuan offshore. Investor kini menanti rilis data ekonomi terbaru untuk mengukur dampak konflik global terhadap kinerja perdagangan Indonesia, yang pada Februari lalu mencatat surplus sekitar US$1,27 miliar.
Secara teknikal, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan. Level support terdekat berada di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.250 per dolar AS. Jika tekanan berlanjut, nilai tukar berpotensi bergerak ke rentang Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS.
Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
(Dra/nusantaraterkini.co).
