Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Melemah di Awal Perdagangan, Bergerak di Kisaran Rp16.670-an per Dolar AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (16/12/2025) dengan tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal sesi, rupiah tercatat berada di level Rp16.677 per dolar AS, sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, rupiah melemah tipis 0,06 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS justru terkoreksi ringan 0,03 persen ke level 98,28.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Yen Jepang menguat 0,23 persen, dolar Hong Kong naik 0,05 persen, sedangkan dolar Singapura melemah 0,01 persen. Tekanan juga terlihat pada dolar Taiwan yang turun 0,23 persen dan won Korea Selatan yang melemah 0,10 persen.

Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar

Pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, sebelumnya memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp16.660 hingga Rp16.690 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar global pekan ini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan non-pertanian Amerika Serikat (Non-Farm Payroll/NFP) serta inflasi konsumen (CPI) periode November. Kedua indikator penting tersebut dijadwalkan rilis pada Selasa dan Kamis.

Ia menilai data NFP kali ini menjadi sorotan khusus karena sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan AS yang berlangsung cukup lama pada Oktober dan November lalu.

Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Tembus Rp17.896 per Dolar AS di Tengah Pergerakan Beragam Mata Uang Asia

“Pasar akan mencari sinyal apakah terjadi perlambatan pertumbuhan tenaga kerja dan penurunan tekanan inflasi, karena dua faktor ini sangat menentukan kebijakan suku bunga The Fed,” jelasnya.

Dalam pandangan jangka menengah hingga panjang, Ibrahim juga mengingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi diwarnai ketidakpastian global. Persaingan antarnegara besar diprediksi makin intens, perubahan aliansi global bisa terjadi, serta risiko konflik geopolitik masih membayangi.

Ia menambahkan, sejumlah lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, ECB, dan OECD telah memproyeksikan perlambatan ekonomi global yang disertai fragmentasi serta perubahan struktur ekonomi dunia.

Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah

(Dra/nusantaraterkini.co)