Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, Kelangkaan Greenback Tekan Nilai Tukar

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dinilai erat kaitannya dengan terbatasnya pasokan dolar di pasar serta ekspektasi pelaku pasar terhadap pergerakan nilai tukar ke depan.

Prasasti Center for Policy Studies menilai, kelangkaan dolar menjadi faktor dominan yang mendorong pelemahan rupiah. Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa dolar kini berperilaku layaknya komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan pasokan.

“Dolar bisa dianalogikan seperti barang dagangan. Ketika pasokannya melimpah, nilainya turun. Namun saat jumlahnya terbatas, harganya naik. Kondisi inilah yang membuat rupiah tertekan,” ujar Piter, Sabtu (24/1/2026).

Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah

Menurutnya, minimnya suplai dolar bukan hanya disebabkan oleh faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen global dan perilaku investor yang cenderung menahan aset dolar AS. Semakin banyak pelaku pasar memilih menyimpan dolar, semakin ketat pasokan di pasar valuta asing.

“Ekspektasi negatif membuat pemilik dolar enggan melepasnya. Akibatnya, dolar menjadi semakin langka dan rupiah terus terdepresiasi,” jelasnya.

Intervensi Bank Indonesia Dinilai Mendesak

Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru

Piter menegaskan, peran Bank Indonesia (BI) sangat krusial untuk meredam tekanan nilai tukar. Sebagai otoritas moneter, BI perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga keseimbangan pasokan dolar.

Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan investor. Dengan kehadiran BI di pasar, diharapkan pelaku usaha dan investor tidak lagi menahan dolar secara berlebihan, sehingga suplai kembali mengalir dan tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan.

“Selama ekspektasi pasar belum berubah, tekanan akan terus berlanjut. Intervensi BI diperlukan untuk mengelola persepsi dan menstabilkan nilai tukar,” pungkasnya.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Sentuh Rp17.905 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan APBN Tetap Aman

Prasasti menekankan, stabilitas rupiah ke depan sangat ditentukan oleh efektivitas pengelolaan pasokan dolar serta kemampuan otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pasar.

(Dra/nusantaraterkini.co).