Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan dan bertengger di level Rp16.846 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Mata uang Garuda tercatat menguat 50 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yen Jepang dan baht Thailand masing-masing melemah 0,17 persen dan 0,33 persen. Sementara itu, yuan China menguat 0,04 persen, peso Filipina naik 0,22 persen, dan won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di Asia dengan kenaikan 0,52 persen.
Di sisi lain, dolar Singapura dan dolar Hong Kong sama-sama menguat tipis sebesar 0,02 persen pada awal perdagangan.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Tekanan juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa melemah 0,07 persen, poundsterling Inggris turun 0,04 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,11 persen. Senada, dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah 0,06 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah didorong oleh sentimen global yang membaik, khususnya terkait perkembangan isu Greenland yang memicu sikap risk on di pasar keuangan global.
“Pasar merespons positif perkembangan tersebut sehingga investor lebih berani mengambil risiko,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/1).
Selain faktor eksternal, sikap Bank Indonesia yang cenderung less dovish dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (21/1) juga dinilai masih menjadi penopang pergerakan rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama
