Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan terbatas pada awal perdagangan Selasa (3/3/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp16.862 per dolar AS, naik 6 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih diliputi sentimen kehati-hatian (risk off), terutama akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Yen Jepang dan yuan China menguat masing-masing 0,02 persen dan 0,31 persen. Won Korea Selatan juga terapresiasi 0,15 persen. Sebaliknya, baht Thailand dan peso Filipina melemah tipis.
Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar
Dolar Singapura turut menguat 0,12 persen, sementara dolar Hong Kong relatif stabil pada pembukaan perdagangan pagi.
Dari kelompok mata uang utama negara maju, mayoritas bergerak di zona positif. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss mencatatkan kenaikan tipis. Dolar Australia dan dolar Kanada juga menguat, mencerminkan sentimen pasar global yang masih dinamis.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi terjadi seiring kuatnya dolar AS dan meningkatnya aversi risiko investor.
“Kondisi risk off akibat eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor penekan rupiah. Namun intervensi Bank Indonesia diperkirakan akan membantu menahan pelemahan lebih lanjut,” ujarnya.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan otoritas moneter serta perkembangan situasi global yang dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang domestik.
Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama
(Dra/nusantaraterkini.co).
