Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Mulai Bangkit, Menguat Tipis Lawan Dolar AS

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta. (Foto: Bisnis.com)
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal positif pada pembukaan perdagangan Selasa (28/10/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka di level Rp16.620 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.621 per dolar AS pada Senin (27/10/2025).

Pergerakan mata uang di kawasan Asia juga bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,31 persen, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,26 persen, ringgit Malaysia naik 0,16 persen, dan baht Thailand menguat 0,14 persen.

Adapun dolar Singapura turut terapresiasi 0,08 persen, yuan China naik 0,07 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,008 persen. Sebaliknya, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,41 persen, sementara won Korea Selatan terkoreksi 0,15 persen terhadap greenback.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.515 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bergerak Campuran

Faktor Penggerak: Sentimen Global dan Domestik

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah kali ini masih dipengaruhi kombinasi faktor global dan internal. Menurutnya, penguatan terbatas dolar AS yang tercermin dari indeks dolar (DXY) pada perdagangan Senin sore memberikan tekanan sementara bagi mata uang regional.

“Pasar tengah menanti arah kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama dunia. Fokus utamanya tentu pada putusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari waktu Indonesia,” kata Ibrahim.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Berbalik Menguat ke Rp 17.383/USD, BI Genjot Intervensi dan Kendalikan Permintaan Dolar

Selain itu, laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan, memperkuat spekulasi akan adanya penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang.

Faktor Domestik: Ekonomi Diprediksi Melambat

Dari sisi domestik, pelaku pasar turut memantau proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 yang diperkirakan melambat. Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan hanya mencapai 4,9 persen (year-on-year), lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,12 persen.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Diproyeksi Masih Tertekan, Bergerak di Kisaran Rp17.600–Rp17.700 per Dolar AS

Meski demikian, sejumlah analis meyakini stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik, didukung cadangan devisa yang kuat dan inflasi yang relatif terkendali.

(Dra/nusantaraterkini.co)