Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Tembus Rp16.984 per Dolar AS, Tekanan Konflik Global dan Lonjakan Safe Haven Menguat

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang pekerja sedang menunjukkan mata uang dolar dan rupiah. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (30/3/2026). Di pasar spot, mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp16.984 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini memang tergolong tipis, sekitar 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS. Meski demikian, pergerakan ini mencerminkan sentimen negatif yang masih membayangi pasar keuangan global.

Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan tren pelemahan mata uang di kawasan Asia. Sejumlah mata uang regional seperti baht Thailand, yuan China, peso Filipina, dan won Korea Selatan kompak bergerak di zona merah. Hanya yen Jepang yang mampu bertahan dan justru mencatat penguatan.

Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah

Pengamat pasar menilai, penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Permintaan terhadap aset safe haven meningkat tajam di tengah ketidakpastian global, sehingga mendorong indeks dolar bergerak menguat dalam kisaran 99 hingga 101.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Ia bahkan memproyeksikan nilai tukar berpotensi mendekati level Rp17.100 per dolar AS jika sentimen global belum mereda.

Di sisi lain, situasi geopolitik menjadi pemicu utama meningkatnya kekhawatiran investor. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, memicu risiko gangguan pasokan energi global.

Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkatkan potensi penurunan produksi minyak secara signifikan. Bahkan, penurunan produksi di kawasan Timur Tengah disebut bisa mencapai jutaan barel per hari.

Selain itu, ketegangan di Eropa Timur turut memperparah kondisi pasar. Serangan terhadap fasilitas energi di Rusia yang dilakukan oleh Ukraina semakin meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global.

Kondisi tersebut mendorong harga komoditas energi naik dan secara tidak langsung memperkuat dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor

Dari sisi lain, dinamika kebijakan dan politik dalam negeri AS juga ikut memengaruhi arah pasar. Ketidakpastian kebijakan luar negeri serta menurunnya kepercayaan publik terhadap Presiden Donald Trump menjadi faktor tambahan yang memperkuat volatilitas pasar global.

(Dra/nusantaraterkini.co).