Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan sepanjang pekan ini hingga sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang justru menunjukkan penguatan.
Mengacu pada data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), rupiah berada di posisi Rp16.990 per dolar AS atau melemah sekitar 0,09% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, rupiah juga mencatatkan pelemahan sebesar 0,18%.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terlihat beragam. Baht Thailand menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan sekitar 0,4% terhadap dolar AS. Sementara itu, won Korea Selatan juga mengalami penurunan sebesar 0,17%. Di sisi lain, rupee India justru tampil perkasa dengan penguatan hingga 2,2% berkat langkah tegas bank sentral India dalam mengendalikan spekulasi pasar.
Baca Juga : Mensesneg Soroti Peran Spekulan di Balik Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah sendiri dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi, khususnya bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Selain itu, sentimen domestik turut memperburuk kondisi. Kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga bahan bakar non-subsidi memunculkan kekhawatiran terhadap beban fiskal negara. Hal ini berdampak pada meningkatnya aksi jual investor asing di pasar Surat Utang Negara (SUN).
Faktor musiman juga ikut berperan, di mana memasuki kuartal kedua biasanya terjadi peningkatan pembayaran imbal hasil kepada investor asing. Ditambah lagi, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru
Meski sentimen global sempat membaik, rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan mata uang nasional saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika eksternal sekaligus persepsi risiko domestik.
(Dra/nusantaraterkini.co).
