Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sambut Kepulangan Suami dan Saudaranya usai Disekap 8 Bulan di Kamboja, Yuliana: Rasa Campur Aduk

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Adetia Purwaningsih
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG Istri dari salah satu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban penipuan kerja di Kamboja mengungkapkan rasa haru yang mendalam sekaligus menceritakan trauma penyiksaan fisik yang dialami keluarganya selama delapan bulan penyekapan.

Yuliani menyampaikan rasa syukur atas pemulangan suaminya M. Ulik beserta dua saudaranya, Amar dan Reza yang sempat terjebak dalam sindikat penipuan daring (scaming) di Kamboja pada, Senin (30/3/2026).

Baca Juga : Tekan Kasus Perdagangan Orang, Sumsel Aktifkan Gugus Tugas TPPO

“Rasanya bangga, lega, campur aduk, tidak bisa bicara apa-apa lagi. Saya hanya bersyukur dan berterima kasih banyak kepada Bapak yang telah membantu memulangkan suami dan saudara-saudara saya,” ujar Yuliani saat diwawancarai langsung di Kantor Gubernur Sumsel.

Baca Juga : Sambut Kepulangan Suami dan Saudara Usai Disekap Delapan Bulan di Kamboja, Yuliana: Rasanya Campur Aduk

Penderitaan keluarga ini bermula pada pertengahan tahun 2025 ketika para korban tergiur lowongan kerja di media sosial yang menjanjikan posisi di sebuah rumah makan. Namun setibanya di lokasi, ponsel mereka segera disita oleh pihak pengelola.

Ia mengatakan jika pihak keluarga di Palembang sempat kehilangan komunikasi total selama satu bulan sebelum akhirnya para korban berhasil melarikan diri menuju perlindungan KBRI.

Baca Juga : Dua Orang Meninggal Saat Kecelakaan Beruntun di Bawah LRT Cinde Palembang

“Kemarin itu tidak ada kontak karena HP-nya disita. Sempat hilang kontak sekitar satu bulan. Baru ada komunikasi lagi setelah mereka berhasil melarikan diri dari tempat kerjanya langsung menuju KBRI,” katanya.

Baca Juga : Polda Sumsel Ringkus 137 Tersangka Kasus 3C Selama Mei 2026

Ia menjelaskan kondisi fisik dan psikis suaminya sangat memprihatinkan akibat tindakan represif yang diterima selama bekerja secara nonprosedural di negara tersebut.

“Katanya mereka disekap, dicambuk, hingga disetrum karena kerjanya dianggap tidak bagus. Ternyata bukan kerja di rumah makan, mereka cuma disiksa dan jarang dikasih makan,” jelasnya.

Baca Juga : Realisasi Belanja Negara di Sumsel Tembus Rp12,61 Triliun hingga April 2026

Kekejaman yang dialami para korban selama penyekapan tergolong sangat tidak manusiawi, di mana penyiksaan fisik menjadi sanksi harian jika target pekerjaan sebagai admin penipuan tidak tercapai.

Baca Juga : Buntut Kasus Fee Proyek, Herman Deru Bakal Nonaktifkan Iwan Tuaji dari Partai Nasdem

Kesaksian mengerikan tersebut diperkuat oleh Ryansyah, korban asal 7-Ulu lainnya yang mengaku sering menerima cambukan hingga kulitnya membiru serta sengatan listrik di bagian badan saat dipaksa bekerja di sektor chatting love.

“Pantat saya sudah sering dicambuk sampai biru. Pernah juga disetrum di badan. Kerjanya tim saya sebagai yang chatting love dan nanti ada yang bagian lainnya untuk yang bisa menghasilkan uang,” ungkap Ryansyah.

Selain itu, korban lain bernama Varel menceritakan momen keberaniannya melarikan diri pada pukul 02.00 WIB dini hari bersama sembilan rekan lainnya setelah mengetahui rencana sindikat yang akan menjual mereka ke perusahaan lain.

Varel sempat membuat video permohonan bantuan kepada Wali Kota Palembang dan Gubernur Sumatera Selatan sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh pemerintah.

“Saya di sana kerja baru empat hari dan belum mendapatkan gaji. Tapi karena saya merasa mau dijual ke perusahaan lain kalau tidak bisa menghasilkan uang, maka saya memilih melarikan diri,” tuturnya.

Kini, sebanyak 14 warga Palembang yang berasal dari berbagai kelurahan, mulai dari 7-Ulu hingga 32 Ilir, telah tiba kembali Palembang dan dapat berkumpul dengan keluarga.

(Tia/Nusantaraterkini.co)