Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sisi Gelap dari Soekarno dan Soeharto, Dua Wajah Kepemimpinan Indonesia 

Editor :  Akbar
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Soekarno (kiri) dan Soeharto (kanan) dua wajah kepemimpinan Indonesia (Youtube)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Dalam sejarah Indonesia, Soekarno dan Soeharto sering dipandang sebagai dua sosok pemimpin yang sangat berbeda. 

Soekarno dikenal sebagai proklamator kemerdekaan dan penggagas ideologi nasional, sementara Soeharto diingat sebagai penguasa Orde Baru dengan reputasi kontroversial.

Namun, penilaian ini perlu ditelaah lebih dalam, karena masing-masing memiliki sisi positif dan negatif.

Soekarno: Proklamator dan Sosok Kontroversial

Soekarno, sebagai pendiri Republik Indonesia, banyak dipuji atas perannya dalam memproklamasikan kemerdekaan dan membangun bangsa. Pada 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun, kepemimpinan Soekarno juga memiliki sisi gelap. 

Ketika Indonesia berada dalam keadaan kritis, Soekarno mengklaim kekuasaan sebagai presiden seumur hidup, yang mengarah pada manuver politik dan keputusan yang dinilai merugikan rakyat demi ambisinya.

Baca Juga: Semangat Baru Pengalaman Menginap yang Lebih Baik di Banda Aceh, Mita Mulia Hotel by Calandra Kenalkan Fasilitas Baru

Dalam perkembangan politik, Soekarno sempat memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menerapkan sistem demokrasi parlementer, yang akhirnya menemui kritik dari berbagai pihak, termasuk Wakil Presiden Mohammad Hatta. 

Perdebatan mengenai bentuk negara federal versus kesatuan menjadi salah satu isu besar. Soekarno juga menghadapi konflik dengan kabinet dan militer, yang menimbulkan ketidakstabilan politik.

Pada akhir 1950-an, ketidakstabilan politik dan militansi militer semakin meningkat. Pemberontakan PRRI dan Permesta di Sumatera dan Sulawesi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Soekarno. 

Penumpasan pemberontakan ini menimbulkan banyak korban jiwa dan mencoreng catatan kepemimpinan Soekarno, meskipun berhasil merebut Irian Barat dari Belanda melalui diplomasi dan operasi militer.

Soeharto: Dari Orde Baru hingga Era Reformasi

Soeharto, yang menggantikan Soekarno sebagai presiden pada 1967, dikenal sebagai pemimpin Orde Baru. Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat namun juga disertai dengan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi. 

Baca Juga: Henn’na Hotel Robot Pertama di Dunia, Hanya ada di Tokyo 

Kepemimpinan Soeharto ditandai dengan stabilitas politik yang ketat dan dominasi militer, serta pengekangan terhadap kebebasan pers dan oposisi politik.

Baik Soekarno maupun Soeharto memiliki warisan yang kompleks. Soekarno dikenal sebagai Bapak Proklamator yang berjuang untuk kemerdekaan tetapi juga memiliki sisi otoriter dalam kebijakan pemerintahannya. 

Sebaliknya, Soeharto dikenal sebagai arsitek stabilitas politik dan pembangunan ekonomi, namun dengan biaya kebebasan dan hak asasi manusia. Sejarah keduanya menunjukkan bahwa penilaian terhadap pemimpin tidak bisa dipandang hitam-putih, melainkan perlu dipertimbangkan dari berbagai sudut pandang.

(Akb/nusantaraterkini.co">nusantaraterkini.co)